alexametrics
Selasa, 31 Mar 2020
radarsurabaya
Home > Politik Surabaya
icon featured
Politik Surabaya
Pilkada Surabaya 2020

Ketinggalan Kereta, Golkar Masih Optimis Bisa Bangun Koalisi

25 Februari 2020, 16: 27: 54 WIB | editor : Wijayanto

Ketua Bappilu DPD Partai Golkar Surabaya, Arif Fathoni.

Ketua Bappilu DPD Partai Golkar Surabaya, Arif Fathoni. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA – Meski masih belum menentukan dukungan atau rekomendasinya kepada calon tertentu, Partai Golkar optimistis bisa membangun koalisi di Pilwali Surabaya 2020. Sekalipun sejumlah partai telah bersepakat membangun poros, Golkar tak terpengaruh.

Bagi Golkar, semua kemungkinan masih cukup terbuka. Baik berkoalisi dengan poros yang sudah ada, maupun membangun koalisi baru.

Partai Golkar (lima kursi) bersama PKS (lima kursi) dan PSI (empat kursi) masih belum memberikan rekomendasi untuk bakal calon wali kota. "Kalau dibilang kami ketinggalan kereta, tidak lah. 'Kereta' juga belum jalan," kata Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD Golkar Surabaya, Arif Fathoni.

Menurutnya, semua kemungkinan masih terbuka. Sekalipun sudah ada calon yang mendapatkan dukungan, belum ada rekomendasi yang diberikan kepada pasangan yang memiliki calon wakil walikota.

Enam dari sepuluh partai di DPRD Surabaya sepakat membentuk koalisi mengusung Machfud Arifin sebagai Calon Walikota. Di antaranya adalah PKB (lima kursi), Gerindra (lima kursi), Demokrat (empat kursi), NasDem (tiga kursi), PAN (tiga kursi), dan PPP (satu kursi).

Di luar poros ini, masih ada PDI Perjuangan (15 kursi) yang kemungkinan akan membentuk poros lain. Mempertimbangkan pilkada Surabaya sebelumnya, PDI Perjuangan masih cukup tangguh di kota Pahlawan sekalipun tanpa rekan koalisi.

Sedangkan bagi Golkar, PKS dan PSI, mereka sudah mencukupi persyaratan KPU untuk bisa mengusung calon wali kota dan wakil wali kota.  Menanggapi hal ini, Fathoni tak gegabah. Ketua Fraksi Golkar di DPRD Surabaya ini menjelaskan bahwa satu di antara pertimbangan membentuk poros didasarkan pada figur yang diusung.

Untuk memilih figur yang diusung, Golkar kembali akan mendasarkan pada hasil survei. Untuk diketahui, hingga saat ini Partai Golkar sedang menunggu hasil survei masing-masing calon.

"Kami menggunakan tolok ukur yang jelas, yakni survei. Oleh karena itu, setiap kandidat yang mendaftar di Golkar harus membawa survei dari lembaga yang kami rekomendasikan," jelasnya.

Apabila ada kecocokan dengan poros yang sudah ada, peluang koalisi cukup besar.

Apalagi, Machfud Arifin juga menjadi bakal calon yang diusulkan Golkar Surabaya ke DPP.

Berbicara soal calon potensial, Golkar, PKS, maupun PSI sebenarnya memiliki sejumlah calon potensial.

Berdasarkan hasil survei Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan JTV, tokoh di tiga partai ini bersaing dengan sejumlah tokoh lainnya.  Misalnya, Adies Kadir (Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar) yang memiliki persentase Popularitas mencapai 30,9 persen.

Perolehan ini hanya sedikit di bawah Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana yang figur yang paling populer dengan persentase mencapai 39,21 persen. Kemudian, diususul Presiden Persebaya, Azrul Ananda dengan 29,66 persen. Di posisi keempat ada politisi PKB, Fandi Utomo dengan 25,73 persen. Disusul Kepala Bappeko Surabaya, Eri Cahyadi 17,84 persen, Machfud Arifin dengan 11,93 persen. Di bawah mantan Kapolda Jatim ini, ada Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans) yang juga kader Golkar. Pun dari sisi elektabilitas, Whisnu tetap yang paling tinggi (5,47 persen), kemudian Eri Cahyadi (5,04 persen), dan Azrul Ananda (4,76 persen).

Berikutnya, ada Adies Kadir yang memiliki persentase 2,62 persen dan Machfud Arifin hanya dipilih 1,35 persen. Sampel diambil di seluruh wilayah di Surabaya, dengan jumlah sampel tiap wilayah proporsional terhadap jumlah penduduk Surabaya.(mus/rak)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia