alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

19 Tahun Harian Radar Surabaya, Maju Bersama Mewarnai Kota Lama

25 Februari 2020, 01: 26: 10 WIB | editor : Wijayanto

BERSEJARAH: Kantor Radar Surabaya di Jalan Kembang Jepun 167 Surabaya.

BERSEJARAH: Kantor Radar Surabaya di Jalan Kembang Jepun 167 Surabaya. (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

Harian Radar Surabaya resmi mulai berada di tangan pembaca pada 24 Februari 2001. Namun keberadaan Radar Surabaya sebenarnya jauh sebelum itu. Sebelumnya Radar Surabaya dikenal sebagai harian Suara Indonesia yang bermarkas di Malang.

Rahmat Adhy Kurniawan-Wartawan Radar Surabaya

HARIAN Suara Indonesia ini didirikan oleh almarhum Ebes Sugiono, mantan Wali Kota Malang, pada sekitar 1970-an. Kala itu Suara Indonesia merupakan anak dari harian Sinar Harapan yang terbit di Jakarta. Ketika Sinar Harapan dibreidel oleh pemerintah Orde Baru pada 1986, roda bisnis Suara Indonesia sebagai anak perusahaan ikut terganggu.

Sampai kemudian harian Suara Indonesia ini diakuisisi oleh Jawa Pos Group pada 1987 dengan masih menggunakan nama Suara Indonesia. Harian yang bermarkas di Malang ini kemudian boyongan ke Surabaya, tepatnya di Jalan Sumatera, kemudian boyongan lagi ke Jalan Karah Agung 45 Surabaya.

Bermarkas di Karah Agung 45, Suara Indonesia berubah menjadi harian bisnis. Tirasnya memang sedikit tapi segmen pasarnya jelas, yaitu masyarakat kelas menengah ke atas. Koran bisnis Suara Indonesia ini bertahan sampai datangnya krisis moneter pada 1997.

Ketika Jawa Pos menempati kantor baru di Gedung Graha Pena mulai 1997, Harian Suara Indonesia pun ikut pindah dan menempati satu ruangan di lantai 4 Gedung Graha Pena. Gonjang-ganjing politik di Indonesia yang memunculkan orde Reformasi membuat Dahlan Iskan, bos Jawa Pos Grup menjadikan Suara Indonesia bukan lagi menjadi koran bisnis tapi menjadi Koran Reformasi, menyuarakan suara rakyat pro reformasi.

Harian Suara Indonesia pada era Reformasi ini membuat terobosan dengan memperkuat jajaran awak redaksi yang merupakan gabungan dari wartawan-wartawan yang berasal dari Jawa Pos, Kompetisi (tabloid olahraga), dan Suara Indonesia.

Menjadikan Suara Indonesia menjadi sebuah Koran Reformasi ternyata sangat tepat. Tiras naik cepat, semua orang baca Suara Indonesia. Semua orang baca Suara Indonesia untuk mengetahui denyut nadi reformasi yang didengungkan. “Ketika itu kami sempat tasyakuran, Pak Dahlan mengumpulkan kami. Dan kami akhirnya mendapat dividen,” kenang Lilik Widyantoro, yang saat itu menjadi kepala biro di Jakarta, yang kemudian menjadi Direktur Radar Surabaya hingga saat ini.

Berbagai kegiatan masyarakat yang menuntut pergantian kepemimpinan Orde Baru dan aksi-aksi reformasi menjadi liputan utama harian Suara Indonesia. Saat itu, tiras atau oplah Suara Indonesia mencapai puncaknya dan sangat populer eksistensinya, sehingga membuatnya dikenal sebagai Koran Reformasi. Meski sebelumnya adalah koran khusus ekonomi dan bisnis dengan sirkulasi yang terbatas.

Kemudian setelah perkembangan politik berangsur pulih, Suara Indonesia kembali menjadi harian umum yang meliput peristiwa-peristiwa nasional dan lokal Surabaya dan Jawa Timur. Namun dengan lahirnya Undang-Undang Otoda (Otonomi Daerah) pada tahun 2000 yang membagi kue kekuasaan termasuk keuangan dari pusat ke daerah, Dahlan Iskan selaku pendiri Jawa Pos Group memiliki ide brilian untuk mendirikan koran lokal di daerah yang kemudian diberi nama Radar. Kala itu tujuh koran lokal didirikan sekaligus, yaitu Radar Bojonegoro, Radar Bromo, Radar Mojokerto, Radar Jember, Radar Malang, Radar Banyuwangi, dan Radar Madura.

Pendirian koran radar-radar di daerah ini, selain untuk menangkap peluang bisnis yang bergeser ke daerah, tentunya juga untuk mendekatkan materi-materi liputan ke para pembacanya yang mayoritas berada di daerah. Ini sejalan dengan prinsip proximity (kedekatan) yang menjadi salah satu dari news value yang utama.

Surabaya sebagai kantor pusat Jawa Pos Group pun tak lepas dengan ide pendirian RADAR-RADAR di daerah ini. Maka sejak 24 Februari 2001, harian Suara Indonesia sebagai anak perusahaan Jawa Pos pun resmi berganti nama menjadi Radar Surabaya.

Sesuai perubahan nama itu, maka fokus pemberitaan dikerucutkan ke area Surabaya dan sekitarnya, yakni Sidoarjo dan Gresik sebagai kota penyangga (buffer zone) metropolitan Surabaya.

Pada 2015, seiring dengan perkembangan Kota Surabaya yang mencoba merevitalisasi kawasan Kota Lama, Radar Surabaya menangkap peluang itu. Radar Surabaya yang sejak 1997 berkantor di Graha Pena, boyongan ke Jalan Kembang Jepun 167-169 pada 1 Desember 2015 untuk menempati bangunan cagar budaya tempat cikal bakal Jawa Pos sebagai kantor.

Seiring lima tahun menempati kantor yang menjadi Cagar Budaya Kota Surabaya, Radar Surabaya mencoba tetap melayani penyajian pemberitaan yang berkualitas untuk masyarakat dan ikut mewarnai Kota Lama Surabaya. (*)

(sb/rak/jay/JPR)

 TOP