alexametrics
Jumat, 03 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Mampu Turunkan Suhu 2 Derajat Celcius, BMKG Anggap Surabaya Fenomenal

24 Februari 2020, 23: 49: 32 WIB | editor : Wijayanto

SINERGITAS: Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati (kiri) memberikan cenderamata kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

SINERGITAS: Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati (kiri) memberikan cenderamata kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) Pusat berencana memasang dua akselerometer dan 20 sensor intensimeter di Surabaya. Alat tersebut untuk mengabarkan lebih awal potensi bencana alam yang terjadi di Kota Pahlawan.

Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati menyampaikan rencana itu dalam pertemuan dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Rumah Dinas Wali Kota Surabaya kemarin. Keduanya juga membahas potensi gempa serta penurunan suhu udara yang terjadi di Surabaya.

Dwikorita mengatakan, pada umumnya semua daerah di Indonesia mempunyai potensi gempa bumi, termasuk Surabaya. Karena itu, perlu dilakukan pemetaan. “Surabaya masih aman, tapi tetap harus waspada karena patahan tidak bisa diprediksi menjadi gerakan yang mengakibatkan gempa bumi,” katanya.

BMKG ingin bekerja sama dengan Pemkot Surabaya untuk memasang alat pantau gempa akselerometer dan intensitimeter. "Saya ingin bersama Pemkot Surabaya bersama-sama melakukan mikro zonasi gempa bumi dan pemasangan alat monitor baik akselometer maupun intensitimeter,” katanya.

Menurut dia, alat tersebut bisa memetakan lokasi-lokasi mana di Surabaya yang sangat rawan gempa. Sehingga pemkot bisa melakukan penyesuaian saat penataan kota.

Selain itu, BMKG mengapresiasi turunya suhu di Surabaya. Ini karena saat ini di berbagai negara suhu cenderung naik. “Di Surabaya fenomenanya malah terbalik, malah ada penurunan hingga 2 derajat Celsius. Ini sesuatu yang sangat fenomenal dan benar-benar langka apabila kita bandingkan dengan belahan bumi mana pun. Sehingga ini perlu diapresiasi setinggi-tingginya,” terangnya.

Menurut Dwikorita, fenomena ini sangat perlu disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia mengingat Surabaya punya banyak industri dan kendaraan bermotor.

“Harus banyak orang yang belajar dari sini. Ini penghargaan kepada Bu Wali yang telah sukses beradaptasi dalam mengatasi perubahan iklim global. Ternyata rahasianya sudah dibongkar, yaitu penghijauan, penghijauan, dan penghijauan,” katanya.

Sementara itu, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengaku senang dengan kehadiran para petinggi BMKG. Menurut Risma, apa yang disampaikan BMKG sangat bermanfaat dan membuat masyarakat selalu waspada akan ancaman gempa bumi.

"Saya menyampaikan terima kasih atas perhatian BMKG karena mengingatkan kita di Surabaya akan potensi gempa. Nantinya masukan dari BMKG dan pemantauan di lapangan akan kami gunakan untuk melakuan penataan kota seiring adanya potensi gempa tersebut,” katanya.

Risma juga mengaku akan terus menambah ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya hingga mencapai 30 persen. Target tersebut sangat realistis mengingat pemkot saat ini terus memanfaatkan lahan kosong untuk dijadikan taman. “Kami targetkan 30 persen luas wilayah Surabaya terdiri dari RTH untuk publik supaya suhunya terus turun,” ungkapnya.

Berdasarkan data hingga tahun 2018, luas RTH di Surabaya 7.290,53 hektare atau sama dengan 21,79 persen dari luas wilayah Kota Surabaya. “Jumlah ini semakin banyak karena kami terus mengembangkan ruang terbuka hijau,” pungkasnya. (rmt/rek)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia