alexametrics
Selasa, 31 Mar 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Penyidik Ditreskrimum Polda Jatim Temukan Blanko dan Stempel Palsu

Pemesan Bisa Dipidanakan

22 Februari 2020, 14: 01: 37 WIB | editor : Agung Nugroho

RAWAN : Petugas menunjukkan barang bukti stempel, blanko akta lahir dan kartu keluarga (KK) palsu yang diamankan dari tersangka kasus pemalsuan dokume

RAWAN : Petugas menunjukkan barang bukti stempel, blanko akta lahir dan kartu keluarga (KK) palsu yang diamankan dari tersangka kasus pemalsuan dokumen saat gelar kasus di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jumat (21/2). (SURYANTO/RADAR SURABAYA )

Share this      

SURABAYA-Penyidik Ditreskrimum Polda Jatim kembali menemukan ratusan blanko kosong yang hendak dibuat dokumen palsu tersangka Anton Sumaryono. Diantaranya, ditemukan 220 lembar blanko kosong kutipan akta kelahiran, 175 lembar blanko akta keluarga, 24 stempel Dinas tenaga Kerja (Disnaker) sejumlah daerah di Jatim, 22 stempel kepala desa, 46 stempel kantor urusan agama (KUA), dan 17 stempel kecamatan.

“Kita menemukan barang bukti cap (stempel) cukup banyak. Ada cap yang sering digunakan memalsu dokumen,” ungkap Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Pitra Andreas Ratulangie, Jumat (21/2).

Stempel tersebut, lanjut Pitra, bertuliskan berbagai daerah. Ada dari daerah di Jawa Timur dan luar Jawa Timur. “Ada blanko KK dan akta kelahiran masih kosong. Seandainya tidak ditemukan, pasti digunakan tersangka,” jelasnya.

Menurut Pitra, dokumen-dokumen yang ditemukan bisa disalahgunakan pemesan untuk paspor dan KTP. “Dokumen palsu ini digunakan untuk membuat paspor asli. Ini ditemukan ada paspor asli, tapi buatnya dari dokumen fiktif (palsu.red),” imbuhnya.

Selain itu, penyidik juga akan mengembangkan dan mencari pemesan dokumen kependudukan yang hendak digunakan untuk kepentingan pesta demokrasi. “Masih kita kembangkan ke sana. Tersangka ini juga menawarkan melalui facebook,” bebernya.

Mantan Dirreskrimum Polda Sulawesi Utara itu menegaskan untuk pemesan dokumen palsu, juga bisa dijerat dengan pasal 263 KUHP dan UU No. 24 tahun 2013 tentang administrasi kependudukan dengan ancaman 10 tahun kurungan penjara. “Pemesan bisa kami jerat pasal tindak pidana,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Ditreskrimum Polda Jatim menangkap Anton Sumaryono, 44, warga Desa Dandong, Srengat, Blitar akhir Januari 2020 lalu. Tersangka diringkus karena terbukti membuat dokumen kependudukan palsu. Pemesannya sebagian digunakan untuk kepentingan pemilihan umum (pemilu). (rus/gun)

(sb/rus/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia