alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

UKW Angkatan 28 dan 29 PWI Jatim-Jawa Pos Cetak Rekor Lulus 100 Persen

22 Februari 2020, 07: 43: 53 WIB | editor : Wijayanto

CUMLAUDE: Para peserta UKW Angkatan 28 dan 29 berfoto bersama panitia dan para penguji.

CUMLAUDE: Para peserta UKW Angkatan 28 dan 29 berfoto bersama panitia dan para penguji. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di lingkungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim telah memasuki angkatan yang ke-29. Tapi, baru dua angkatan terakhir yang semua pesertanya lulus dan memecahkan dua rekor sekaligus.

UKW Angkatan ke-28 dan ke-29 itu hasil kerja sama antara PWI Jawa Timur, Dewan Pers, dan Jawa Pos Group. Total ada 79 peserta yang mengikuti UKW untuk menilai tingkat kompetensi para juru warta tersebut.

Dari 79 peserta itu tercatat ada 12 wartawan tingkat utama, 9 wartawan level madya, dan 58 wartawan kategori muda. Sehari-hari mereka ada yang menjadi wartawan, redaktur, kepala kompartemen, hingga pemimpin redaksi di Jawa Pos Group.

SERIUS: Pelaksanaan UKW Angkatan 28 dan 29 oleh PWI Jatim dan Jawa Pos di gedung Graha Pena Surabaya.

SERIUS: Pelaksanaan UKW Angkatan 28 dan 29 oleh PWI Jatim dan Jawa Pos di gedung Graha Pena Surabaya. (ISTIMEWA)

Peserta berasal dari Probolinggo, Surabaya, Malang, Tulungagung, Kudus, hingga Solo. UKW itu berlangsung dua hari dan berakhir kemarin (21/2) di gedung Graha Pena Jawa Pos.

Ketua PWI Jawa Timur Ainur Rohim menuturkan UKW angkatan ke-28 dan ke-29 bisa dianggap memecahkan dua rekor sekaligus. Yakni UKW dengan jumlah peserta terbanyak serta UKW dengan semua peserta lulus.

"Kalau angkatan pertama sampai ke-27 ada yang nyantol, yang dianggap belum berkompeten. Tiap angkatan empat sampai tujuh persen (yang tidak lulus, Red)," ujar Ainur.

Peserta UKW yang tidak lulus itu bisa dari semua jenjang, mulai utama, madya, dan muda. Di tingkat utama, misalnya, ada yang tak lulus dalam kompetensi untuk mengevaluasi laporan investigasi dan menulis tajuk.

Sedangkan di tingkat madya ada yang tak bisa mengusulkan liputan investigasi serta menulis liputan features.

Sementara di tingkat muda ada peserta yang tak bisa menulis berita dengan memenuhi unsur 5W plus 1 H serta merencanakan liputan. "UKW ini sebenarnya juga merekonstruksi kegiatan sehari-hari teman-teman," tambah dia. 

Lebih dari itu, UKW juga menjadi salah satu tolak ukur untuk melihat kemampuan wartawan dalam menjalankan kerja-kerja profesionalitasnya. Para wartawan itu meskipun punya kebebasan seperti yang diatur dalam UU 40/1999 tentang Pers, tapi juga harus mempertanggungjawabkan profesinya.

"Sebagai wartawan, jurnalis, dan media itu bekerja untuk kepentingan publik secara luas. Jadi, kalau tidak kompeten bisa carut marut," ungkap Ainur.

Ketua Komisi Pendidikan dan Pelatihan PWI Pusat Hendro Basuki dalam sambutannya saat penutupan acara UKW tersebut mengungkapkan bahwa para peserta ada yang memiliki kemampuan bagus selama kegiatan tersebut.

Bahkan, dia menyebutkan selama menjadi penguji belum pernah dia memberi nilai tinggi. "Untuk pertama kalinya saya declare bahwa saya sangat jarang memberikan angka nilai 85, tapi itu terjadi di sini," ujar dia diiringi tepuk tangan peserta.

Dia berharap dengan kelulusan dalam UKW itu berarti tanggung jawab para peserta itu menjadi lebih berat. Sebab, mereka harus mempertanggungjawabkan kompetensinya.

"Lho wartawan madya kok muk sakmene, itu akan diuji di lingkungan sampeyan," ungkap dia. (jun)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP