alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Iso Ae
icon featured
Iso Ae

Dikatai Buluk dan Jelek Justru oleh Suami Sendiri

20 Februari 2020, 04: 00: 59 WIB | editor : Agung Nugroho

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Dikata-katain teman item, gendut, jelek, meskipun bercanda saja sakitnya luar biasa. Apalagi suami sendiri yang ngata-ngatain, serius lagi.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Setelah sembilan tahun lamanya menjalani toxic relationship, Karin, 26, akhirnya mundur juga. Ia bukannya korban KDRT. Ia juga bukan korban suami posesif. Ia hanyalah korban mulut tidak sopan Donwori. Yang dengan licinnya, ratusan kali mencuci otak Karin dengan kata-kata, “Kon iku elek, ireng burik, rasah kemenyek”.

Tujuh tahun sudah Karin mendengar kalimat menyakitkan itu dari mulut Donwori. Bahkan sejak keduanya masih pacaran hingga menikah tiga tahun lalu. Kata olokan itu diulang dan diulang tanpa henti. Disampaikan saat bercanda, juga ketika marah. Sampai Karin sempat meyakini bahwa fisiknya kurang menarik ketimbang yang lain.

Karin sendiri mengakui, ia memang tidak cantik-cantik amat. Tidak glass skin seperti perempuan Korea. Tidak putih seperti artis ibu kota. Tapi dalam lubuk hati yang terdalam, ia merasa kalau fisiknya ini tidak buruk-buruk amat. Ia sendiri menyebutnya eksotis. Penulis akui itu. Namun sayang, kecantikan khas Indonesianya tidak diakui oleh suami.

“Jal aku rabineambek bule. Mesti disayang-sayang, ngerti bule selerane sing  modelan ngene,” ujarnya percaya diri saat ditemui di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, awal pekan lalu.

Eh jangan menganggap kasus Karin ini remeh temeh lho ya! Bagi perempuan, yang seperti ini serius. Kepercayaan diri perempuan ada di fisik dan pujiannya. Kalah tiap hari dihajar dengan kata yang bertolak belakang, apa tidak stres? 

Misalnya, mau pergi ke kondangan. Kita sebagai perempuan dandan lebih cetar dari biasanya, apa jadinya kalau usaha susah payah ini dijatuhkan oleh suami dengan kata-kata. “Iki hasile kon macak jam-jaman? Kok gak enek ayu-ayune, tambah elek.” Kan jleb rasanya . Yang begini, makanan sehari-hari Karin.

Namanya rumah tangga, pasti ada konflik. Begitu pun dalam rumah tangga Karin. Biasanya, Karin akan menyampaikan kemarahan dengan diam seribu bahasa dan mengabaikan Donwori.

Namun lag-lagi, Donwori lagi-lagi menantang dengan kata-kata kasar. “Opo, kon kate njaluk cerai ? Wes untung aku gelem ngrabi. Ilingo, lek gak aku, gak ngarah kon payu, rupane koyo buto cakil.”

Pelan tapi pasti, segala perkataan buruk Donwori kepada Karin ini terserap di hati Karin. Merembes ke alam bawah sadar sampai membentuk kebencian yang terpendam kepada Donwori. Hingga pada masanya, kesabarannya telah habis. ” Nduwe lanangan siji, sogeh yo ogak tapi gak isok ngregani bojo e. Opo sing kenek diaboti. Kok aku ngenes ambek awakku dewe,”  pungkasnya, kesal. (*/opi)

(sb/is/Nug/JPR)

 TOP