alexametrics
Jumat, 03 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Iso Ae
icon featured
Iso Ae

Suami Ketagihan Miras dan Judi, Istri Dirampok Setiap Hari

19 Februari 2020, 04: 00: 59 WIB | editor : Agung Nugroho

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Salah dua kriminal yang paling menakutkan adalah perampok dan begal. Tapi, apa jadinya kalau perampoknya suami sendiri? Yang tidur sekasur setiap hari.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Nasi sudah menjadi bubur, mau menyesal tapi sudah terlanjur. Pikiran inilah yang kini menghantui Karin, 30. Jika saja punya mesin pemutar waktu, ia ingin kembali ke masa lajangnya. Dimana ia akan menolak dengan tegas pinangan Donwori, 32, kala itu. “Yok opo, Mbak. Aku rabi ambek perampok. Jelas nyesele,” cerita Karin, minggu lalu, di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.

Perlu ditegaskan dulu, Donwori bukan perampok kelas kakap yang meresahkan masyarakat. Nyalinya terlalu ciut untuk itu. Sebaliknya, ia merampok Karin, istrinya sendiri. Buat apa? Buat minum dan judi setiap hari.

Perempuan yang tinggal di kawasan Perak ini menjelaskan, dulu sebelum menikah, Donwori rajin bekerja. Bahkan pertemuannya dengan Donwori ini ya di tempat kerja. Keduanya merupakan karyawan dari salah satu toko. Namun entah mengapa semangat Donwori bekerja melempem setelah menikah. Bahkan ia keluar dari pekerjaan, dan merintis karir jadi freelance sopir.

Pekerjaan yang tak menentu membuat emosi Donwori labil. Yang tidak kerja siapa, yang marah-marah siapa. Untung Karin masih mau berpikir jernih. Karena sudah tidak bisa lagi mengandalkan pemberian suami, ia bondo nekat membuka warung kopi. Bermodalkan perhiasan, mahar dari Donwori. “Ngerti modalku duwet mahar. Diungkit-ungkit, duwit dodolan dijaluki setiap hari,” ungkapnya.

Biasanya, Donwori memalak Karin itu saat tengah malam. Saat Karin merebahkan tubuhnya di atas kasur bersiap untuk istirahat. Donwori akan memaksa dan mengancam kalau tidak diberikan uang. Karena hal ini, Karin seringkali memilih menginap di warung alih-alih pulang. Lebih aman sentosa dan sejahtera.

Karena tak kuat menahan pedih sendiri, Karin sering berkeluh-kesah kepada sahabatnya, sesama penjual warung. Dari sini, ia mendapatkan dorongan untuk bercerai dengan Donwori.

“Jarene, kon iku dadi wong wedok ojo bodo-bodo. Kon wes mandiri, isok golek duwek dewe. Ndang pegat ae, rasah mbelani sampah masyarakat, yo iku, Donwori, bojomu iku sampah masyarakat!” cerita Karin berapi-api.

Karena disampaikan berkali-kali, Karin semacam tercuci otak. Ia pun perlahan mulai berpikir bahwa omongan sahabatnya ada benarnya. Dari situlah, keberanian untuk menggugat cerai Donwori setelah tujuh tahun merugi tersulut juga. (*/opi)

(sb/is/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia