alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Diperparah Wabah Virus Corona, Impor Buah dari Tiongkok Anjlok

18 Februari 2020, 20: 00: 59 WIB | editor : Agung Nugroho

ANJLOK: Penjualan buah impor di salah satu gerai di pusat perbelanjaan di Surabaya.

ANJLOK: Penjualan buah impor di salah satu gerai di pusat perbelanjaan di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat tren kinerja impor di Jatim pada Januari 2020 mengalami penurunan. Bahkan, komoditas sayuran dan buah-buahan turun drastis hingga USD 133,44 juta.

Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan menuturkan, penurunan impor buah dan sayuran ini belum dapat dipastikan apakah akibat adanya isu virus corona asal Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, yang menyebabkan terhambatnya kegiatan ekspor-impor dari Indonesia ke Tiongkok. Sebab, pembatasan akses ekspor impor dari Tiongkok baru dimulai Februari 2020.

“Tren penurunan impor sudah terjadi di bulan Januari, terutama di komoditas sayur dan buah-buahan yang memang sumbernya kebanyakan dari Tiongkok," ujarnya.

Catatan impor Januari 2020 di Jatim menyebutkan, komoditas gula dan kembang gula turun USD 33,6 juta, sayuran turun USD 67,88 juta, dan buah-buahan turunnya mencapai USD 133,44 juta dibandingkan Desember 2019.

"Buah dan sayuran menjadi salah satu penyumbang turunnya impor. Biasanya komoditas ini memang datangnya sesuai permintaan saja dan turunnya tidak banyak," imbuhnya.

Sedangkan komoditas impor yang naik adalah mesin-mesin/pesawat mekanik naik USD 90,13 juta, disusul mesin/peralatan listrik naik USD 22,60 juta dan ampas/sisa industri makanan naik USD 21,34 juta.

Adapun secara total, kinerja impor di Jatim pada Januari 2020 ini mencapai USD 2,02 miliar atau turun 1,08 persen dibandingkan Desember 2019 yang terdiri dari migas sebesar USD 483 juta, serta impor nonmigas USD 1,54 miliar atau menyumbang 76,13 persen. Sedangkan impor nonmigas turun 3,18 persen, sedangkan impor migas turun 6,27 persen.

Dadang menambahkan, impor terbesar berasal selama ini berasal dari Tiongkok dengan kontribusi 32,30 persen disusul negara-negara ASEAN 15,22 persen, Uni Eropa 11,53 persen, serta Amerika Serikat 6,97 persen, dan Singapura 4 persen.

"Berdasarkan negara utama penyumbang impor kita, khusus Tiongkok mengalami penurunan 16,44 persen, yakni pada Desember 2019 impor mencapai USD 595,8 juta kini menjadi USD 557,4 juta pada Januari 2020," pungkasnya. (cin/rek)

(sb/cin/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia