alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Sidoarjo
icon featured
Sidoarjo

Kasus Stunting Di Sidoarjo Capai 24.439 Balita Tertinggi Di Jawa Timur

18 Februari 2020, 14: 28: 44 WIB | editor : Agung Nugroho

BIAR SEHAT: Kader Posyandu memantau tumbuh kembang anak terkait asupan gizi di Posyandu.

BIAR SEHAT: Kader Posyandu memantau tumbuh kembang anak terkait asupan gizi di Posyandu. (IST)

Share this      

SIDOARJO-Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur mencatat jika Sidoarjo memiliki angka tertinggi kasus stunting di Jatim. Jumlahnya mencapai 24.439 balita. Data itu berdasarkan elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) di 38 kabupaten/kota di Jatim per 25 November 2019.

"Dari total sebanyak 344.019 balita menderita stunting atau gizi buruk di Jatim, tertinggi adalah di Sidoarjo. Namun, ini data bergerak, bisa bertambah dan berkurang sewaktu-waktu," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinkes Jatim, Vitria Dewi.

Daerah tertinggi stunting kedua adalah Kabupaten Banyuwangi sebanyak 21.266 balita, 19.309 di Sampang, Madura, 18.530 di Pasuruan, 17.906 di Probolinggo, 16.507 di Blitar, 13.598 di Kota Malang, 13.345 di Kabupaten Nganjuk. Kemudian di Kabupaten Kediri 13.313 balita, 12.607 balita di Jember, dan 12.111 balita di Jombang.

Vitria menjelaskan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh, gagal kembang yang terjadi pada anak usia di bawah lima tahun atau mulai usia 0-2 tahun. Stunting dikenal dengan berbadan pendek, tinggi badannya tumbuh tidak sesuai standar anak seusianya.

Dia menerangkan, penyebab stunting karena kurangnya konsumsi makanan bergizi saat dalam kandungan. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan stunting. Yakni sanitasi, pola makan, dan pola asuh. "Hal ini diperparah bagi ibu hamil yang tidak memiliki pengetahuan memadai, soal asupan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak sejak di dalam kandungan hingga setelah melahirkan," ujarnya.

Untuk menekan kasus stunting di wilayahnya, lanjut Vitria, Dinkes Jatim menggandeng dengan berbagai lembaga terutama dari unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, serta pengusaha. "Kami juga bekerja sama dengan ormas untuk mengedukasi masyarakat hingga tataran bawah, terkait pentingnya mencegah stunting khususnya bagi ibu hamil," tandas Vitria. (hil/vga)

(sb/rpp/Nug/JPR)

 TOP