alexametrics
Minggu, 29 Mar 2020
radarsurabaya
Home > Sidoarjo
icon featured
Sidoarjo
Dampak Sebulan Lebih Banjir di Tanggulangin

Warga dan Siswa Mulai Mengeluhkan Gatal-Gatal dan Absen Sekolah

18 Februari 2020, 12: 29: 25 WIB | editor : Agung Nugroho

PELAN-PELAN: Sejumlah pelajar di kawasan Tanggulangin berjalan menerobos banjir usai pulang sekolah.

PELAN-PELAN: Sejumlah pelajar di kawasan Tanggulangin berjalan menerobos banjir usai pulang sekolah. (HILDAN SEPKA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO-Sudah lebih dari sebulan banjir di Desa Kedungbanteng dan Desa Banjarasri Kecamatan Tanggulangin tak kunjung surut. Warga sudah mengeluh gatal-gatal pada kaki. Tidak ada air bersih serta terganggunya proses belajar mengajar menjadi sejumlah masalah yang timbul. 

Banjir tersebut bahkan memaksa murid kelas V SDN Banjarasri untuk duduk dan belajar di atas meja. Sebab banjir sudah menggenangi seluruh ruang kelas. Tingginya 10 cm. Meja di kelas, ditata dengan rapat. Mereka duduk dan belajar di atas meja tersebut. Meskipun demikian, tetap saja kaki mereka harus menyentuh air kembali saat maju mengerjakan tugas atau saat para siswa beristirahat. 

Namun, tidak semua kelas memilih cara ini. Beberapa masih belajar dalam situasi normal. Dengan memakai kursi. Untuk menghindari terendamnya kaki oleh banjir, mereka mengandalkan pijakan yang ada pada kursi. "Sampai saat ini kakinya sudah pada gatal-gatal," ujar guru kelas V SDN Banjarasri, Sutiyah. 

Sutiyah mengungkapkan, setiap hari ada saja siswa yang tidak masuk. Keluhannya karena banjir ataupun kaki mereka yang gatal-gatal karena terus terendam banjir. "Setiap kelas ada sekitar empat hingga lima siswa yang tidak masuk," imbuhnya. 

Di SMPN 2 Tanggulangin di Desa Kedungbanteng, upacara setiap hari Senin tetap dilaksanakan. Ini merupakan pertama kali upacara digelar semenjak kompleks sekolah di Desa Kedungbanteng ini terendam banjir. 

Kepala SMPN 2 Tanggulangin Al Hadi menyebut ketinggian air kemarin yang terparah sepanjang satu bulan terakhir. Mencapai 50 cm. Sebelumnya hanya 11 ruangan di lantai satu terendam. Namun, saat ini sudah 15 ruangan yang terdampak banjir. 

Sebanyak 10 ruang kelas serta lima ruang yang terimbas banjir meliputi ruang laboratorium IPA, UKS, sanggar, komite, koperasi serta ruang toilet guru. Beberapa siswa masih nampak belajar di musala sekolah. Pada pukul 09.00 siswa kelas VII terpaksa dipulangkan lebih awal karena harus berbagi tempat belajar dengan kelas lain. "Kami berharap Pemkab Sidoarjo segera meninggikan sekolah kami agar para siswa bisa belajar dengan nyaman," harapnya. 

Laily Maghfiroh salah satu siswi SMPN 2 Tanggulangin mengatakan, kemarin sudah ke empat kalinya pulang lebih awal. "Iya sudah empat kali," keluhnya. 

Camat Tanggulangin Sabino Mariano menjelaskan, lamanya banjir yang terjadi membuat warga tidak tenang beristirahat. Beberapa warga bahkan memilih mengungsi ke rumah saudara untuk menumpang tidur saat malam. 

Ia dan pemerintah Desa Kedungbanteng dan Desa Banjarasri telah menyiagakan balai desa sebagai tempat pengungsian jika dibutuhkan. "Kalau untuk tidur bisa muat banyak," katanya.(rpp/vga) 

(sb/rpp/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia