alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Lifestyle Surabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Masih Kontroversi, tapi Tren Bayi Tabung Meningkat

17 Februari 2020, 18: 45: 15 WIB | editor : Agung Nugroho

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

SURABAYA - Program bayi tabung masih mendapat stigma kurang di masyarakat. Akibatnya, pasangan suami-istri datang ke dokter dengan perasaan malu dan menyembunyikan keikutsertaannya dalam program fertilisasi in vitro.

Kepala Klinik Tiara Citra Surabaya Prof Samsulhadi mengatakan, masih ada mitos di masyarakat yang menyebut pasangan yang ikut program bayi tabung sebagai pasangan yang tidak normal. Padahal, ada kondisi yang disebut sebagai unexplained infertility.

Menurut dia, salah satu indikasi bayi tabung adalah unexplained infertility. Setelah diperiksa, suami dan istri ternyata normal. “Itu 10 persen dari pasangan suami-istri yang susah punya anak," ujar Prof Samsul.

Dokter Relly Primariawan, pimpinan Klinik Graha Amerta, menyebut stigma dan ketidakterbukaan pada program bayi tabung masih ada hingga sekarang. Salah satu alasannya adalah kontroversi agama.

"Di lingkungan agamis, kalau bisa privasi mereka jangan diketahui keluarganya. Ada kontroversi agama yang tidak setuju bayi tabung. Ada yang bilang, sebenarnya bayi tabung dilarang karena tidak alami. Kemungkinan itu masih ada," katanya.

Relly menyebutkan, program bayi tabung yang ditangani bisa mencapai 200 bayi per tahun. "Trennya semakin meningkat," katanya. (ism/rek)

(sb/is/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia