alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Gresik
icon featured
Ekonomi Gresik

Tren Bisnis Berubah, Investasi di Gresik Merosot

17 Februari 2020, 17: 34: 11 WIB | editor : Agung Nugroho

TERUS MEMBANGUN: Pembangunan salah satu industri yang berada di dalam kawasan JIPPE, PT Nippon Indosari (Sari Roti) terus dikebut.

TERUS MEMBANGUN: Pembangunan salah satu industri yang berada di dalam kawasan JIPPE, PT Nippon Indosari (Sari Roti) terus dikebut. (ISTIMEWA)

Share this      

GRESIK - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Provinsi Jawa Timur merilis data investasi sepanjang 2019 mencapai Rp 58,45 triliun. Jumlah itu naik sebesar 14,2 persen dibandingkan 2018 atau lebih tinggi dari kenaikan investasi nasional sebesar 12,24 persen. Terjadi perubahan rangking investasi pada data tersebut. Dimana, pada 2018, Gresik berada diperingkat satu, saat ini merosok menjadi peringkat lima kota investasi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Gresik, Tri Andi Suprihartono menilai turunnya rangking investasi di Gresik karena berbagai faktor. Mulai infrastruktur yang kurang memadai, ketersediaan tenaga kerja, besarnya nilai Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan susahnya proses perizinan. “Turunnya rangking investasi ini tidak bisa dilihat dari satu faktor, harus dilihat secara komplek,” kata dia.

Dipaparkan, saat ini tren bisnis yang paling banyak diminati pelaku usaha adalah sektor usaha perdagangan dan jasa. Maka apabila Surabaya menempati urutan pertama investasi karena sebagai ibu kota provinsi sektor usaha jasa berkembang.

“Pada 2019 dampak ekonomi global membuat investor menunda untuk berinvestasi, sedangkan industri di Gresik mayoritas padat modal. Turunnya antusiasme investor untuk mendirikan pabrik di Gresik berpengaruh pada neraca investasi daerah,” imbuhnya. Kondisi diperparah dengan mahalnya harga lahan di Kawasan Industri Gresik (KIG).

Untuk mendirikan satu pabrik di sebuah kawasan industri di area Manyar pengusaha diminta untuk membeli lahan seluas lima hektar. Asumsinya jika satu meter persegi lahan dijual harga Rp 2,5 juta. Artinya pengusaha harus menyiapkan modal minimal Rp 125 miliar untuk bisa membangun pabrik di sebuah kawasan. “Aturannya rumit baik dari pemerintah pusat maupun daerah. Makanya tidak ada investor yang datang,” tandasnya.

Di tempat terpisah, Manager Humas Java Intregated Industrial Port and Estate (JIIPE), Mifti Haris menyebut turunnya rangking investasi di Gresik karena pemerintah daerah  kurang memberikan support pada investor. “Infrastruktur penunjang kawasan seperti energi dan air susah didapat pemilik kawasan. Belum lagi investasi yang dikeluarkan agar mendapatkan supply. Keduanya sangat mahal,” kata Haris.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Gresik, Mulyanto mengakui jika antusiasme investor pada 2019 mengalami penurunan. Dia menyebut hal ini akibat dampak lesunya ekonomi global. “Tahun ini proyek baru di Gresik sepi karena iklim invetasi dunia sedang kurang bersahabat,” kata Mulyanto.

Dia menyebutkan pada 2018 di Gresik terdapat 240 proyek PMA senilai 471 juta dollar AS dan 442 proyek PMDN senilai Rp 9,1 triliun. Angka ini membuat Gresik menjadi peringkat teratas investasi di Jatim.  “Kalau tahun ini lahan sudah banyak yang berkurang. Sementara kawasan industri yang existing belum memiliki nilai jual yang mampu meyakinkan para pengusaha,” pungkasnya. (fir/han)

(sb/fir/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia