alexametrics
Kamis, 09 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Politik Surabaya
icon featured
Politik Surabaya

HARUS JUJUR, Ini Kriteria Utama Calon Wali Kota Surabaya

14 Februari 2020, 20: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

PAPARAN: Agnes Tuti Rumiati (kanan) bersama Machmud Suhermono (tengah) memaparkan hasil survei yang dilakukan pada pertengahan Februari ini.

PAPARAN: Agnes Tuti Rumiati (kanan) bersama Machmud Suhermono (tengah) memaparkan hasil survei yang dilakukan pada pertengahan Februari ini. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA -  Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya akan digelar pada 23 September 2020. Dari hasil survei, warga Surabaya mendambakan pemimpin yang jujur sebagai penerus Wali Kota Tri Rismaharini. Ini adalah salah satu poin penting dari hasil survei Pusat Riset Pilkada JTV bersama Tim Survei Pilkada ITS.

"Dari 15 kriteria sosok pemimpin yang ideal, warga Surabaya mendambakan sosok wali kota yang jujur. Kriteria ini mendapatkan skor 4,72 yang masuk kategori sangat penting. Artinya orang Surabaya yang diutamakan itu kejujuran itu nomor satu," ujar Tenaga Ahli Tim Survei Pilkada dari ITS, Dr, Dra, Agnes Tuti Rumiati saat jumpa pers di Gedung JTV, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jumat (14/2).

Dari survei tersebut, kriteria utama yang dibutuhkan oleh masyarakat Surabaya sebagai calon wali kota adalah jujur. Warga Kota Pahlawan cenderung tidak tertarik dengan sosok pemimpin yang menonjolkan politik identitas pada Pilwali Surabaya 2020.

Survei yang dilaksanakan selama enam hari itu menggunakan metode random sampling terhadap 450 responden berusia di atas 17 tahun. Dari survei tersebut, para peneliti memperkirakan margin of error sebesar 5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

"Dari survei ini, masyarakat menilai Kota Surabaya sudah sangat baik. Tapi itu concern utama justru untuk dipertahankan. Apakah wali kota berikutnya bisa mempertahankannya atau tidak," tambahnya.

Di survei tersebut, tersaji 21 pilihan kriteria yang menurut masyarakat Surabaya harus dimiliki oleh seorang wali kota. Dengan rentang nilai 1 sampai 5, poin kejujuran mendapat nilai tertinggi yaitu 4,72. Itu berarti kejujuran masih menjadi prioritas karakter masyarakat Surabaya.

"Yang menarik, ternyata yang diutamakan oleh masyarakat itu kejujuran dengan skor 4,72. Berarti kejujuran itu hal yang paling penting karena skornya hampir 5," tuturnya.

Setelah kejujuran, kriteria berikutnya yang diinginkan oleh masyarakat Surabaya adalah kemampuan dalam mengatasi masalah ekonomi, lingkungan, pendidikan, sosial, dan kesehatan. Agnes merangkum kriteria tersebut sebagai kompetensi seorang calon dalam mengelola Kota Surabaya.

"Latar belakang dari calon itu tidak jadi masalah utama, apakah dia itu ganteng apa cantik, itu gak. Apakah dia dari agama tertentu, itu juga gak. Apakah dia tokoh masyarakat juga tidak. Jadi yang pertama itu jujur dan kemampuan penyelesaian di Kota Surabaya," lanjut Agnes.

Sementara itu, empat poin terendah adalah agama, partai atau golongan tertentu, gender, dan penampilan fisik. Agnes menyimpulkan, masyarakat Surabaya sudah bisa memilih secara objektif dengan mengedepankan kemampuan, bukan identitas tertentu dari sang calon.

"Jadi politik identitas itu sudah tidak bisa dimainkan di Surabaya. Masyarakat Surabaya itu sudah sangat rasional dan paham bahwa yang menjadi utama itu kemampuan dan kejujuran," imbuhnya.

Oleh karena itu, ia berpesan kepada partai politik, tim pemenangan, maupun calon agar tidak lagi memasarkan diri menggunakan identitas. Baik itu agama mau pun golongan. Agnes menyarankan agar mereka lebih menonjolkan kemampuan dalam pengelolaan kota.

Tim Riset Pilkada JTV dan ITS Surabaya menggelar survei pada 6-14 Februari 2020. Riset ini menggunakan cluster random sampling melibatkan 450 koresponden berusia 17 tahun ke atas. Sampel tiap wilayah proporsional terhadap jumlah penduduk. Rentang margin of error sebesar 5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

"JTV berinisiatif menyelenggarakan survei untuk menangkap aspirasi publik terhadap sosok, pokok masalah dan program solusi yang paling didambakan dan dianggap prioritas warga Surabaya," kata Kepala Pusat Riset Pilkada JTV, Machmud Suhermono.

Dari 19 pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di Jawa Timur, JTV akan mensurvei lima daerah yaitu Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto dan Kota Pasuruan. "Kelima daerah ini kita pilih karena kontestasi politiknya cukup tinggi," kata Machmud. (mus/rak)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP