Kamis, 27 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Prihatin Kerap Dengar Perang Pecah Belah di Kamar Anak

14 Februari 2020, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Banyak mertua yang harus belajar pada Mira, 56. Tahu anaknya kerap bertengkar dengan pasangan, dia diam tanpa ikut campur. Baru bertindak ketika diminta.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya 

Mira adalah orang yang paling berjasa dalam perceraian Karin, 25, anaknya. Mira yang setia mengantar Karin melalui sidang yang panjang. Mira juga yang membuka jalan perceraian Karin. 

Sebagai seorang ibu,Mira tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Ia ingin anaknya melahirkan banyak cucu yang menggemaskan, hidup bahagia bersama keluarga kecilnya hingga tua. Itulah mengapa dulu hatinya sangat plong ketika Karin dinikahi oleh Donwori, 28, seorang PNS muda yang bisa dibilang cukup mapan.

Namun, kenyataan berkata lain. Ia merasa, Karin tak bahagia bersama Donwori. Dua tahun setelah menikah, Mira kerap mendengarkan percekcokan pasangan muda itu. Tidak dilakukan blak-blakan di depannya. Tapi bunyi gaduh di kamar menceritakan semuanya.

"Kadang ono suara klontangan. Suara piring opo gelas dibanting, tapi yo tak umbar. Gak wani melu-melu. Dijarno bari ngunu yo tenang. Oh wes baikan," cerita Mira suatu siang di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya. "Mene isuke yo biasa maneh. Engkuk beberapa hari kemudian bantingi barang-barang maneh," lanjutnya, enteng. 

Bebunyian seperti itu, kata Mira, sebulan terakhir adalah konsumsi sehari-harinya. Ia tahu, anaknya temperamental. Namun ya setelah semua hancur, biasanya balikkan. Namun yang terakhir ini berbeda.

Suatu malam, adalah malam terakhir Mira mendengar bunyi gaduh itu. Saat itu, menantunya pulang. Ia sempat menyapa, sempat juga mengobrol singkat. Namun beberapa menit kemudian, perang barang pecah belah kembali terjadi. Kali ini diiringi tangisan kencang Karin sambil teriak-teriak. 

Kala itu, Mira yang tidak tega, ingin rasanya ikut campur dan mengetahui duduk perkara yang terjadi pada anak dan mantunya. Ia pun mendekati kamar keduanya. Baru sejengkal keluar dari kamarnya, Mira mendengar perdebatan antara keduanya. 

Dari teriakan Karin, Mira tahu kalau anaknya itu menangkap perselingkuhan Donwori. "Kon pikir aku gak ngerti, kon bolak-balik metu ambek wedokan. Jane atimu mbok deleh endi lali bojo," begitu ucapan Karin kepada Donwori yang Mira dengar. 

Sambil berteriak dan menangis tersedu-sedu, Karin juga kembali mengomel. "Koen iku gak ngertia, saben bengi hapemu iku tak delok. Chat-chat mu ambek gendakanmu tak woco, opo? Sek gak ngaku? Kurang bukti opo?"

Setelah itu, teriakan demi teriakan terus keluar dari mulut Karin. Diiringi dengan bunyi barang yang berjatuhan, kini, rasanya tidak hanya piring dan gelas. Mungkin televisi dan segala isi kamar sudah hancur.

Mendengar kata-kata itu, remuk hati Mira. Ia sedih, anaknya mengalami nasib pernikahan yang menyedihkan. Meski kesal, lagi-lagi ia tak mau ikut campur. Perlahan ia kembali ke kamar. Namun sampai di pintu, Karin memanggilnya sambil minta tolong. 

Mendengar teriakan Karin, Mira langsung mendekat. Ia buka kamar anaknya dan betapa terkejutnya Mira menyaksikan adegan yang tak pernah ia sangka. Saat itu, tangan Donwori sudah berada di leher Karin dan berusaha mencekik anaknya. 

Mira yang tak terima langsung mendatangi Donwori dan menampar mantunya itu. Tak butuh waktu lama sampai dia mengusir Donwori dari rumah. Saat itu juga, hubungan mertua menantu itu berakhir. Atas kemauan Karin sendiri dan dukungannya, ia bercerai.

"Saiki ngerti opoo kerep tukaran. Tibake Donwori nyimpen selingkuhan, konco kerjoe, mangkane anakku cemburu terus. Yongalah nduk ku. Nasibmu kok ngene men," pungkas Mira, berkaca-kaca. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia