alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Khofifah: Info Salah Picu Kenaikan Harga Bawang Putih di Jatim

13 Februari 2020, 16: 40: 08 WIB | editor : Wijayanto

Gubernur Khofifah Indar Parawansa

Gubernur Khofifah Indar Parawansa

Share this      

SURABAYA – Pelarangan impor barang dari Tiongkok akibat adanya virus Corona rupanya menjadi pemicu naiknya harga bawang putih di Jawa Timur.  Bahkan kenaikan harga bawang putih di Jatim sudah mencapai 100 persen.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan harga bawang putih yang semula Rp 28.000 menjadi Rp 58.000. Meningkatnya harga bawang putih secara drastis ini membuat kenaikan psikologis. “Saya langsung melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan beberapa menteri, karena kenaikannya mencapai dua kali lipat,” ujarnya.

Mantan Menteri sosial ini menegaskan hasil komunikasinya bersama sejumlah menteri adalah impor yang dihentikan dari Tiongkok hanya untuk komoditas tertentu. Menurutnya bukan semua barang impor dari Tiongkok dihentikan akibat adanya virus Corona.

“Jadi informasi tersebut tidak benar. Yang dilarang impor dari Tiongkok cuma hewan yang hidup. Masalahnya masyarakat sudah terlanjur percaya sehingga menyebabkan kenaikan psikologis,” jelasnya.

Gubernur perempuan pertama Jatim ini menambahkan informasi yang keliru itu membuat harga bawang putih di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Jatim melambung dua kali lipat dari harga sebelumnya. Khofifah mengatakan penghentian impor bawang putih dari Tiongkok oleh pemerintah tidak mungkin dilakukan.

“Karena selama ini stok bawang putih Indonesia memang masih bergantung dari Tiongkok,” tutur wanita yang juga pernah menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan ini.

Mantan Wakil Ketua DPR RI tahun 1999 ini mengimbau importir dan distributor agar tidak menimbun bawang putih. Untuk menindaklanjuti kenaikan harga bawang putih ini, Khofifah mengaku sudah berkoordinasi dengan Tim Satuan Tugas (Satgas) pangan dalam mengecek gudang-gudang penyimpanan.

“Saya meminta agar gudang yang memiliki stok bawang putih untuk segera distribusikan ke pasar. Saya pastikan stok bawang putih untuk Jatim dan nasional sangat cukup. Dan yang harus diketahui penimbunan sanksinya pidana,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Drajat Irawan mengatakan sentra produksi bawang putih di Jatim ada di Probolinggo, Banyuwangi, Malang, Magetan dan Batu. Hanya saja hasil produksi tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan bawang putih di Jatim. “Tiap tahun kebutuhannya 62.000 ton, sehingga perlu diimpor,” tuturnya.

Meski mulai mahal, Drajat memastikan bawang putih di Jatim tidak akan langka. Menurutnya persediaan di gudang masih cukup memadai untuk kebutuhan masyarakat.“Kami optimalkan stok-stok bawang putih yang ada di gudang sambil menunggu impor lancar,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo mengatakan produksi bawang putih di Jatim tahun 2019 sebesar 6.953 Ton. Sedangkan konsumsi mencapai 62.880 Ton. “Sehingga mengalami defisit 55.927 Ton dan  masih dibutuhkan luas tanam untuk pertanaman bawang putih seluas 9.321 hektar,” jelasnya. (mus/rud)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP