Kamis, 27 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Jelang Kepulangan Mahasiswa Unesa dari Natuna

Pihak Kampus Siap Berikan Psiko Edukasi dan Trauma Healing

13 Februari 2020, 16: 33: 13 WIB | editor : Wijayanto

JAGA KONDISI PSIKIS: Puluhan mahasiswa mengikuti sosialisasi penerimaan mahasiswa dari Wuhan yang dikarantina di Natuna di auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Unesa

JAGA KONDISI PSIKIS: Puluhan mahasiswa mengikuti sosialisasi penerimaan mahasiswa dari Wuhan yang dikarantina di Natuna di auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Unesa (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar sosialisasi kepada seluruh civitas akademika terkait virus corona jelang kepulangan mahasiswanya dari karantina di Natuna. Kegiatan ini diawali dengan penyebaran kuesioner untuk mengetahui skala kecemasan mahasiswa terhadap virus tersebut, yang kemudian hasilnya akan menjadi dasar pelaksanaan trauma healing dan psiko edukasi yang akan dilakukan.

Tim Trauma Healing Unesa Dr. Diana Rahmasari, MSi., Psikolog menuturkan, dari 49 mahasiswa yang telah mengisi kuisioner, terdapat 30 persen di antaranya memiliki kecemasan yang cukup tinggi. Hal ini berati ada kekhawatiran untuk menerima kedatangan teman-temannya. Oleh sebab itu, menurut Diana, perlu adanya rekonstruksi ulang pada cara berpikir mereka.

"Mereka ini khawatir. Salah satu penyebabnya pemahaman mereka yang belum optimal. Jadi kami akan berikan edukasi dan meyakinkan mahasiswa di sini untuk menerima teman-temannya yang datang dari Natuna nanti dengan tangan terbuka," terangnya.

Di sisi lain, kepulangan dari Natuna ke Surabaya ini sebenarnya akan menimbulkan dua kondisi psikologis bagi sembilan mahasiswa itu sendiri. Tergantung bagaimana masing-masing individu memaknainya.

"Jika kaitannya dengan kondisi psikologis, jika dimaknai sebagai kekhawatiran maka akan muncul kecemasan, stres dan depresi pada diri mereka. Tetapi jika dimaknai sebagai challenge, maka tidak akan muncul semacam itu," urainya.

Oleh sebab itu, sebagai langkah awal, lanjut Diana, pihaknya akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui siapa saja yang mengalami rasa khawatir yang berlebihan pada kesembilan mahasiswa tersebut. Selanjutnya, untuk mereka yang ternyata mengalami stres, akan dilakukan kuratif dengan trauma healing, konsultasi individu, dan konsultasi kelompok.

"Stres ini muncul karena ketakutan mereka ditolak bahkan dikucilkan oleh teman atau masyarakat sekitarnya. Tetapi bagi mereka yang dari hasil penilaian tidak menunjukkan adanya gejala depresi, kami akan lakukan tindakan preventif seperti edukasi, pelatihan manajemen stres, dan regulasi emosi," urainya.

Diana menambahkan, tim trauma healing juga akan melakukan home visit untuk melihat respon lingkungan sosial setelah kepulangan sembilan mahasiswa yang diperkirakan tiba di Surabaya pada 16 Februari mendatang ini.

Jika ternyata lingkungan masyarakat ada penolakan atau sifat negatif, pihaknya akan berkoordinasi dengan aparat setempat untuk memberikan edukasi. "Karena support sosial itu penting ya. Dua hari setelah mereka pulang, kami akan melakukan home visit untuk penguatan mental mereka," ujarnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia