alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Sidoarjo
icon featured
Ekonomi Sidoarjo

Bisnis Cokelat Mulai Menggairahkan, Karena Lebih Manis Dari Rasanya

12 Februari 2020, 17: 05: 24 WIB | editor : Agung Nugroho

KREATIF: Pengunjung menikmati suasana Kebun Cokelat Café di Balongbendo.

KREATIF: Pengunjung menikmati suasana Kebun Cokelat Café di Balongbendo. (IST)

Share this      

SIDOARJO-Apa kesan pertama kita ketika mendengar kata cokelat? Pasti yang terlintas yakni manis. Cokelat memang manis. Tapi bisnis cokelat lebih manis dari rasanya. Setidaknya itu dirasakan dua pengusaha di Sidoarjo. Farida Ariyani sang pemilik Vanssa Chocolate dan Hafmi Putri Syahilda Hamdi pemilik Kebun Cokelat Cafe di Balongbendo. 

Farida mulai merintis bisnis cokelat kemasan pada tahun 2003. Selama 17 tahun bisnisnya berjalan mulus. Dalam menggunakan bahan baku, ia tak main-main. Ia memilih buah cokelat dari Tana Toraja Sulawesi Selatan. Cokelat itu dianggap yang terbaik di Indonesia.

Di masa jayanya, produk milik Farida pernah masuk ke retail elit di Jakarta dan Bali. Karena sistem pembayarannya dianggap terlalu lama, dia memilih fokus mensupplai produk cokelatnya di toko oleh-oleh haji dan umrah. Omzet per bulan mencapai Rp 30 juta untuk satu toko saja di Jalan Majapahit. Selebihnya ia jual melalui online. “Isi kismis, kacang Arab atau kurma. Biasanya Rp 18 ribu,” kata perempuan 52 tahun itu.

Selain cokelat dengan rasa manis, Farida juga memproduksi cokelat murni. Dengan kandungan butter cocoa yang lebih banyak. Harganya lumayan. Rp 250 ribu per satu kilogramnya. Jika sudah dikemas, harganya naik Rp 70 ribu per 200 gram.

Tidak hanya Farida, hal senada juga dirasakan Hafmi Putri Syahilda. Lulusan sarjana kebidanan ini memutuskan membuka kafe yang ditanami kebun cokelat pada tahun 2016. Semua bertema cokelat mulai dari menu minuman serba cokelat, makanan, mie cokelat dan snack. “Karena saya juga suka dekor dan tata rias, akhirnya saya berpikir untuk bikin tempat yang beda dari yang lain. Selain bisa untuk tempat nongkrong, juga bisa digunakan tempat wedding,” katanya. 

Dibantu puluhan karyawan, per bulannya Putri mampu mengumpulkan omzet sekitar minimal Rp 20 juta. (rpp/vga)

(sb/rpp/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia