Kamis, 27 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Ramah ke Tetangga, Membabi Buta di Depan Istri

11 Februari 2020, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Ada tipikal orang yang apatis terhadap sekitar, tapi sangat sayang dengan keluarga. Sebaliknya, ada juga yang terlihat sangat ramah, tapi rupanya kejam kalau di rumah.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Donwori, 30, tipikal pria yang nomor dua. Karin, 27, bilang, Donwori, suaminya seperti orang psikopat. Dia mahir bermain peran. Di hadapan orang lain, tetangga-tetangganya, Donwori selalu menampakkan image baik.

Bicaranya halus dan sopan. Bisa menuakan orang tua dan ngakrabi yang muda. Srawung, mudah bergaul dan tak ragu menyapa duluan. Tak mengherankan, kehadirannya di lingkungan tempat tinggal Karin langsung diterima. Baru berapa bulan menikah, satu kampung sudah kenal  dan memuji-muji Donwori.

Sayangnya, ketika Donwori di rumah, sikapnya bisa berubah 180 derajat. Tidak ada Donwori yang suka tersenyum. Yang ada hanyalah Donwori yang suka memerintah. Celakanya, kalau yang dikerjakan Karin tidak cocok dengan maunya, Donwori bisa marah menumpahkan sumpah serapah.

Meski kata-kata  jan***, As* dan sebangsanya biasa di telinga orang Surabaya, bagi Karin, jika kata-kata itu datang dari mulut Donwori, rasanya sangat menyakitkan. “Misuh-misuh lek nak ngarepku tok, gak opo aku. Iki nak ngarep anak sisan, lambene gak isok disensor,” curhat Karin di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, minggu lalu.

Selain pemarah, Donwori juga lebih suka diam seribu bahasa jika di rumah. Ia terlalu fokus pada handphone dan televisi. Ia baru akan berbicara kalau ada perlunya saja. Mengajak Karin ke ranjang, misalnya.

Pun  dengan anak. Mau anaknya jungkir balik, klesotan di lantai, atau tersedak pun, Donwori tak peduli. Baru kalau anak tersebut menangis kencang, ia akan merespons. Itu pun niatnya bukan menenangkan, tapi marah-marah karena ketenangannya terusik.

Kalau Donwori adalah seorang aktor dalam dunia nyata, ia layak mendapatkan Piala Citra. Betapa tidak, ia sering melakukan pembohongan publik agar rumah tangganya terlihat manis dan harmonis. 

Ia bisa setengah jam sebelumnya mencekik Karin dengan berbagai macam hinaan. Namun tiba-tiba bersikap manja, sok-sokan memanggil ‘sayang’ ketika disrawungi tetangga.  “Padahal iluhku gurung garing, ati sek dendam. Isoke nyeluk sayang-sayang, amnesia bekne,” lanjut Karin.

Jahatnya Donwori tidak hanya itu saja. Meski sopan dengan orang tua lain, ia tidak sopan dengan mertua. Seingat Karin, terakhir kali Donwori sopan ya saat  meminta Karin hingga prosesi pernikahan. Setelah itu, ia seperti setan. Bahkan Karin merasa, Donwori berusaha memisahkan Karin dengan orang tuanya.

Setelah mengajak Karin ngontrak rumah, hubungan  anak dan orang tua itu makin terasa dijauhkan. Meski tempat tinggalnya tak jauh memang dari kediaman mertua. Namun, jangan harap Karin bisa pulang sesukanya. Karena entah apa yang merasuki Donwori, izin Karin untuk pulang dipersulit.

Ada saja alasannya. Misalnya pekerjaan rumah belum beres, beres pun dicarikan lagi pekerjaan lain. Atau Donwori keberatan kalau pulangnya Karin merepotkan, nanti minta uang buat dikasih-kasihkan lagi. Which is selama ini pun, Karin tidak pernah minta-minta uang pada Donwori untuk orang tua. Karena Karin pakai uang simpanannya sendiri.

Kadang alasan Donwori melarang-larang juga  absurd. Ia  takut Karin terlalu nyaman, keenakan di rumah ortu malas pulang ke suami. Entah itu teori dari mana.

“Bapak ibuk sing ngalah akhire. Seenggake seminggu dolen omah, mesti borong  gowo jajan gawe anakku. Kene sing enom nglamak, malah sing diparani.Ngunu ae Wori diparani lambene mencla-mencle ae.Mbesengut karepe dewe. Gak ngenakno ati blas,” lanjutnya kesal.

Tak tahan dengan suami huru-haranya, Karin mantab untuk minta cerai. Keinginanya diperkuat gara-gara Donwori juga sudah mulai main tangan.

“Opoko yo, areke iku korban broken home. Melu tante e eh kok ya tantene koyo nenek lampir sisan. Paling areke trauma terus aku dadi pelampiasan yo. Mangkane gak seneng sisan aku cedek mbek wong tuo,” pungkas Karin menyimpulkan.  (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia