Kamis, 27 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

SCARF, Aksesoris yang Bikin Manis

09 Februari 2020, 06: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

SI MANIS: Scarf yang menjadi pemanis penampilan baik dalam fashion maupun furniture.

SI MANIS: Scarf yang menjadi pemanis penampilan baik dalam fashion maupun furniture. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Si pemanis gaya yang satu ini tak boleh absen dimiliki oleh kaum hawa yang aktif dan trendi. Scarf alias syal bisa sekedar digantungkan di leher maupun sebagai aksesoris di tas. Semuanya sama-sama bikin ayu.

Tak ayal, kini scarf jadi fashion item yang wajib hadir di setiap tampilan busana, terutama kaum perempuan. 

Penggunaan scarf kini banyak variasinya. Scarf tidak hanya berguna untuk menutup kepala atau menghangatkan leher, tapi juga bisa dimanfaatkan sebagai aksesori. Seperti pengganti kalung, headband, sabuk, atau hanya dililitkan di tote bag.

Menurut beberapa pengamat fashion, dari sisi bisnis, masa depan scarf tampak cerah. Di tengah iklim kreatifitas yang begitu tinggi seperti sekarang, peluang mengkreasi scarf dalam disain dan warna yang menarik dan beragam pun ikut meroket.

Seperti yang dilakukan oleh Tyas Putri, yang juga turut meramaikan industri fashion item ini melalui brand Pekerjaan Rumah. 

Wanita yang akrab disapa Puput ini baru memulai usahanya di bulan Februari 2017. Dalam kesehariannya, ia memang mengandalkan scarf sebagai pemanis penampilan.

Awalnya ia hanya sebagai pembeli, tapi sekarang sebagai pembuat. Sejak memutuskan keluar dari pekerjaan yang digelutinya selama tiga tahun, produksi scarf ini digunakan hanya untuk mengisi waktu luang.

"Awalnya cuma dipakai untuk diri sendiri. Eh lama kelamaan ada yang tanya, yang order juga makin banyak. Iseng-iseng tapi berpeluang jadi bisnis," terangnya di Surabaya.

Dalam menjalankan Pekerjaan Rumah, perempuan berambut pendek ini dibantu adiknya untuk menerjemahkan keinginan Puput dalam bentuk desain. Orisinalitas ide yang dituangkan dalam bentuk motif jadi keunggulan Pekerjaan Rumah.

"Yang bikin unik karena motifnya didesain sendiri, jadi modelnya lebih eksklusif. Selain itu kita juga pakai teknik digital printing yang dicetak di atas sehelai kain satin," jelasnya. 

Sedangkan proses produksi masih dilakoni dalam skala kecil. Produksi memang sengaja tak dalam jumlah banyak, tapi ketersediaan stok scarf selalu ada.

"Produksi tiap waktu, kita bikin memang gak dalam jumlah banyak. Barang tinggal sedikit, diproduksi lagi. Kita juga ada trial and error  Kalau barang ini larisnya lama, mungkin konsumen gak terlalu suka jadi gak diproduksi lagi," kata Puput. 

Sebelum moncer seperti sekarang, dulu scarf digunakan oleh bangsa Romawi untuk menyeka keringat. Sedangkan di Tiongkok, scarf berfungsi sebagai tanda pangkat tentara Kaisar China Cheng (Shih Huang Ti).

Berbeda lagi dengan Perancis, scarf begitu populer dikenakan oleh kaum pria. Warna scarf menjadi penanda aliran politik yang mengenakannya.

Mereka menyebut scarf dengan istilah cravat, yang diambil dari kata kravata, bahasa Kroasia. Dari cravat itulah berkembang menjadi wooley scarf (scarf dari bahan wol) dengan warna dan disain yang beragam seperti yang kita kenal sekarang. Sejak saat itu scarf bukan hanya bagi kaum pria, tapi juga kaum perempuan. (cin)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia