alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Terdampak Wabah Corona, Ekonomi Jatim Diprediksi Turun

07 Februari 2020, 18: 43: 58 WIB | editor : Wijayanto

TURUN: Gunung Bromo destinasi wisata andalan Jawa Timur. Sejak virus corona menyebar, kunjungan wisatawan asal Tiongkok ke destinasi favorit ini menurun.

TURUN: Gunung Bromo destinasi wisata andalan Jawa Timur. Sejak virus corona menyebar, kunjungan wisatawan asal Tiongkok ke destinasi favorit ini menurun. (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim memprediksikan ekonomi Jawa Timur (Jatim) sepanjang triwulan I 2020 bakal terkendala atau bahkan turun sekitar 0,25 persen.

Hal ini disebabkam mengganasnya wabah virus corona di Tiongkok yang menyebabkan mandeknya perdagangan Indonesia dengan negara tersebut. Sehingga memberikan dampak yang cukup besar bagi Indonesia, termasuk Provinsi Jatim.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri Kadin Jatim Tommy Kaihatu memastikan akan ada banyak industri yang terganggu karena ketergantungan bahan baku dari Tiongkok sangat besar.

Selain industri pariwisata, industri lain yang terdampak di antaranya adalah industri manufaktur, industri pengolahan dan juga ekspor karena ekspor kita ke Tiongkok juga sangat besar dan untuk mencari pasar baru itu butuh waktu. "Dampak selanjutnya, Produk Domestik Regional Bruto kita juga akan ikut terganggu," terangnya.

Lebih lanjut Tommy mengatakan, selama ini sebagian besar bahan baku industri dalam negeri memang sangat tergantung dengan luar negeri. "Sekitar 70 persen bahan baku kita dari berbagai negara. Tiongkok sangat mendominasi, sekitar 50 persen lebih impor bahan baku kita berasal dari Tiongkok seperti bijih plastik, baja dan mesin," terangnya.

Sementara saat ini, seluruh Tiongkok berhenti dan tidak ada aktivitas sama sekali akibat mengganasnya wabah virus Corona di negara tersebut. Kadin Jatim telah melakukan konfirmasi atas kondisi di sana dan dinyatakan bahwa selain Provinsi Wuhan, ada tiga provinsi lagi yang telah ditutup, yaitu Provinsi Hainan, Provinsi Jiangsu dan Provinsi Guangzhou.

"Jadi sebenarnya menghentikan impor untuk sementara waktu ataupun tidak menghentikan itu sama saja, karena tidak dihentikan pun impor tidak bisa dilakukan karena di sana tidak ada yang bekerja. Diliburkan hingga Senin mendatang dan akan kemungkinan besar akan diperpanjang lagi ketika kondisi masih belum terkendali," katanya.

Di sisi lain, Tommy juga mengatakan, untuk melakukan substitusi bahan baku dari Tiongkok ke bahan baku dalam negeri tidak serta merta bisa dilakukan. Karena Indonesia tidak banyak memiliki industri hulu yang bisa diandalkan. Misalkan bijih plastik, sangat sulit untuk menemukan di Indonesia. Kalaupun ada, harganya jauh di atas harga bahan baku dari Tiongkok.

"Tiongkok memiliki tiga hal yang menjadikan mereka sebagai market leader. Pertama konsistensi kualitas, konsistensi harga dan konsistensi kuantitas. Ketiga hal inilah yang kemudian menjadikan Tiongkok sebagai raksasa besar di dunia. Sementara industri dalam negeri sangat sulit untuk memenuhi tiga kriteria tersebut," tegasnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, impor non migas Jatim dari Tiongkok pada 2019 mencapai USD 5,872 miliar atau sekitar 337,43 persen dari total impor Jatim sapanjang 2019 yang mencapai USD 18,930 miliar.

Sementara ekspor non migas Jatim ke Tiongkok sepanjang 2019 mencapai USD 2,299 miliar, atau sekitar 16,19 persen dari total ekspor non migas Jatim di 2019 yang mencapai USD 19,369 miliar.

Lebih jauh Tommy mengatakan bahwa pengalaman saat ini sebenarnya harus menjadi semangat bagi bangsa Indonesia untuk secepatnya membangun industri hulu," pungkasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP