alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Divonis 5 Bulan, Terdakwa Kasus Ujaran Rasisme di Asrama Papua Bebas

01 Februari 2020, 13: 49: 58 WIB | editor : Wijayanto

TERDAKWA: Syamsul Arifin.

TERDAKWA: Syamsul Arifin. (GINANJAR ELYAS SAPUTRA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Syamsul Arifin, terdakwa kasus ujuaran rasisme mahasiswa di Asrama Papua, Jalan Kalasan, Surabaya divonis lima bulan penjara. Hakim menilai terdakwa terbukti dengan sengaja menunjukan ujaran kebencian berdasarkan diskriminasi ras. 

Vonis yang dijatuhkan hakim kepada terdakwa sendiri lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan hukuman delapan bulan penjara. 

“Terdakwa Syamsul Arifin secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras,” kata hakim ketua Yohanes Hehamony saat membacakan putusan di Ruang Garuda II, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Yohanes membacakan amar putusannya, kalau terdakwa Syamsul Arifin juga dibebani membayar denda sebesar 1 juta rupiah subsider 1 bulan kurungan. 

Diketahui, Syamsul sendiri sudah menjalani tahanan sejak tanggal 3 September 2019 lalu. Jika dihitung sejak masa penahanannya itu, Syamsul telah menjalani lima bulan tahanan dan otomatis bisa langsung bebas.

Usai menerima vonis dari majelis hakim, terdakwa mengaku puas dan lega. Ia juga mengaku sudah meminta maaf dengan apa yang diucapkannya kepada mahasiswa Papua pada saat itu. “Alhamdulillah, menerima. Besok langsung pulang. Saya juga sudah minta maaf. Saya hanya mematuhi dan kooperatif,” tutur terdakwa.

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi menetapkan Syamsul Arifin sebagai tersangka kasus ujaran kebencian yang ada di asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan. Syamsul sendiri merupakan aparatur sipil negeri (ASN) atau saah satu staf di Kecamatan Tambaksari.

Syamsul ditetapkan sebagai tersangka dengan dua terdakwa lainnya yakni Tri Susanti atau Mak Susi dan seorang youtuber bernama Ardian Andiansah. Ketiganya mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya pada Rabu (27/11) lalu secara terpisah. (gin/rud)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia