Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Sidoarjo

Dana Bergulir UMKM di Sidoarjo Mencapai Rp 4 Miliar

29 Januari 2020, 17: 51: 48 WIB | editor : Agung Nugroho

OPTIMISTIS: Pelaku usaha mikro saat mengikuti pameran di Alun-alun Sidoarjo beberapa waktu lalu. 

OPTIMISTIS: Pelaku usaha mikro saat mengikuti pameran di Alun-alun Sidoarjo beberapa waktu lalu.  (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO-Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sidoarjo terus mengucurkan dana bergulir (dagulir) untuk modal pengembangan usaha bagi para pelaku UMKM. Namun, dana tersebut tidak sebanyak tahun sebelumnya. Dari Rp 6 miliar menjadi Rp 4 miliar. Hal itu dikarenakan realisasi penyaluran dagulir 2019 tidak mencapai 50 persen. Hanya Rp 2,7 miliar.

Kabid Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sidoarjo Erna Kusumawati membenarkan hal tersebut. Penyebabnya masih banyak kredit macet yang dilakukan para peminjam. Mereka tidak segera mengangsur pinjamannya sehingga dilarang mendapat penyaluran modal untuk kedua kali. “Entah memang berniat tak membayar atau ada kendala usaha,” tuturnya.

Hingga akhir Desember 2018, total kreditur ada 18 koperasi dan 388 pelaku UMKM. Jika ditotal, dinas telah menyalurkan modal sebanyak Rp 5,3 miliar. Adapun angsuran mereka sekitar Rp 1,9 miliar. “Sisa pinjaman masih ada Rp 3,3 miliar,” jelasnya.

Erna menyatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi program dana bergulir di setiap kecamatan. Sehingga pengusaha dapat dimudahkan tentang pinjaman modal. “Nyatanya, dana bergulir tak banyak dikeluarkan,” katanya.

Menurut dia, program dana bergulir sangat memudahkan pengusaha dalam mencari kebutuhan modal. Biasanya, mereka mengeluh terkait besaran bunga yang ditanggung. Nah, program tersebut menjawab keluhan pelaku UMKM. “Sudah bunga rendah. Persyaratan juga mudah. Tapi sulit mengangsur. Kesadaran masyarakat masih kurang,” katanya.

Bahkan, lanjut dia, dinas tidak menetapkan denda apabila peminjam telat mengangsur. Terkait bunga, tak ada tanggungan. Karena sudah dibayar di awal. “Hanya bayar pokoknya,” terangnya.

Kendala kedua adalah hilangnya keberadaan peminjam. Dia mengucapkan dana bergulir dibuat sejak 2002. Awal penyaluran dilakukan mandiri tanpa ada pihak ketiga. Saat itu, modal diperuntukkan kepada korban terdampak lumpur untuk usaha. “Sekarang sulit mencari karena alamat tidak sesuai. Adapun penyalurannya saat ini dibantu oleh salah satu perbankan,” katanya. (rpp/vga)

(sb/rpp/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia