Kamis, 27 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Menikmati Sedapnya Lontong Cap Go Meh di Hotel Berbintang

28 Januari 2020, 19: 10: 44 WIB | editor : Wijayanto

BERAGAM ISIAN: Pengunjung sedang menikmati menu khas Imlek Lontong Cap Go Meh di salah satu hotel berbintang di kawasan HR Muhammad.

BERAGAM ISIAN: Pengunjung sedang menikmati menu khas Imlek Lontong Cap Go Meh di salah satu hotel berbintang di kawasan HR Muhammad. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Tahun Baru Imlek nampaknya kurang meriah tanpa ada Cap Go Meh. Biasanya perayaan Cap Go Meh dilakukan masyarakat Tionghoa dua minggu setelah tahun baru Imlek. Pasalnya, Cap Go Meh juga punya makna khusus bagi mereka.

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harfiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama. Cap berarti sepuluh, go berarti lima, dan meh berarti malam.

Dulunya, Cap Go Meh dilakukan secara tertutup untuk kalangan istana dan belum dikenal masyarakat awam. Selain itu, Cap Go Meh juga identik dengan sajian kulinernya, salah satunya Lontong Cap Go Meh. Inilah yang dihadirkan oleh salah satu hotel berbintang di kawasan HR Muhammad untuk menyambut Imlek sekaligus Cap Go Meh.

Budi Setiawan, selaku general manager hotel menuturkan, ketika Cap Go Meh, biasanya orang-orang akan membawa persembahan berupa kue keranjang dan melakukan sembahyang untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, kini banyak masyarakat yang merayakan Cap Go Meh dengan kudapan Lontong Cap Go Meh, yang merupakan masakan adaptasi peranakan Tionghoa Indonesia terhadap masakan Indonesia, tepatnya masakan Jawa. "Akan tetapi kini hidangan ini juga kerap disajikan kapan saja, tidak hanya ketika Cap Go Meh," terangnya di Surabaya, Selasa (28/1).

Hidangan ini terdiri 10 macam isian, sesuai dengan namanya Cap Go Meh. Mulai dari lontong, ayam masak kare, daging rendang dengan bumbu rujak, telur rebus petis, sambel goreng kentang hati, docang atau terancam yang merupakan makanan perpaduan antara budaya Tionghoa antara kacang panjang dan bumbu urap, bubuk ebi, bubuk kacang kedelai atau koya ledelai, dan serundeng kelapa manis.

"Sayurnya ada sayur rebung yang juga ciri khas makanan Tionghoa dengan isian petai dan udang. Sambalnya diambil dari bumbu rujak dari daging," jelas Ronang, chef di hotel tersebut.

Makanan ini memiliki citarasa asin, manis, pedas yang semuanya bercampur dan menyatu dalam satu piring sajian. "Makanya makannya harus dicampur semuanya juga, biar rasanya merata," ujarnya.

Menurutnya, standart Lontong Cap Go Meh beberapa restoran memiliki ciri khas masing-masing yang berbeda. Tetapi minimal harus ada 10 item dalam satu sajian lontong Cap Go Meh. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia