Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Dinkes Minta Bandara-Pelabuhan Diperketat Cegah Corona Masuk Jatim

24 Januari 2020, 16: 25: 45 WIB | editor : Wijayanto

PENCEGAHAN: Petugas thermal scanner bandara memeriksa setiap penumpang yang baru turun dari pesawat.

PENCEGAHAN: Petugas thermal scanner bandara memeriksa setiap penumpang yang baru turun dari pesawat. (DOK/JAWAPOS)

Share this      

SURABAYA - Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Herlin Ferliana meminta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk menyetop pintu masuk penyebaran virus corona (pneumonia akut) ke JawaTimur (Jatim). Instruksi yang diberikan adalah agar KKP membuat scanner kepada penumpang kapal laut yang datang lewat Pelabuhan Tanjung Perak, terutama dari luar negeri sebagai deteksi awal.

“Kita stop di pintu masuk. Sehingga orang-orang yang terkena atau dalam masa inkubasi sebelum masuk ke tempat kita dapat ter-screening dengan baik,” paparnya.

Herlin menyampaikan, upaya perketatan pengawasan ini berkaitan dengan hari libur Imlek yang beberapa hari ke depan. Di mana akan ada pergerakan orang dari atau ke Tiongkok. Baik lewat pelabuhan maupun lewat udara. Sehingga hari libur Imlek tidak jadi momen penularan penyakit.

Sebagai pencegahan lanjutan, pihaknya juga sudah meneruskan instruksi yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan kepada jajaranya. Termasuk Dinas Kesehatan di tingkat kabupaten atau kota serta rumah sakit untuk lebih jeli dalam mengidentifikasi penyakit yang mirip dengan pneumonia ini.

Kepada rumah sakit tipe A dan B, Herlin juga meminta agar menyediakan ruang isolasi khusus agar memutus kasus yang mengarah ke arah sana. “Yakni dengan dilakukan penatalaksanaan dengan benar lalu dilakukan surveillance atau pelacakan. Dia dekat dengan siapa saja, supaya kita bisa mengawal. Tidak sampai tertular tadi sampai sakit. Jadi cepat-cepat kita lakukan penelusuran,” lanjutnya.

Herlin menyampaikan, penyakit corona memiliki gejala yang sama dengan pneumonia atau infeksi paru-paru umum. Yakni sama panas tinggi, batuk sesak nafas, nyeri badan dan nyeri kepala. Hanya saja virusnya lebih ganas dan mematikan.

Sejauh ini, Dinkes Jatim belum menemukan orang yang terindikasi membawa virus corona di Jatim. Baik melalui pihak pelabuhan maupun udara. Namun pihaknya menyatakan tidak akan lengah untuk memberikan pengawasan.

Keseriusan Dinkes Jatim untuk memblokir masuknya penyakit corona ini beralasan. Virus corona, lanjutnya masih satu saudara dengan virus SARS. Pihaknya mengaku ingin menghindari kejadian pada tahun 1990 kembali terulang. Di mana kala itu SARS menjadi endemik dan menewaskan banyak orang.

“Kasus itu tidak boleh terjadi lagi di dunia. Itulah mengapa kita harus melakukan ini sebaik-baiknya. Mengapa kita begitu ketatnya memproteksi supaya virus ini tidak masuk,” terangnya.

Penyakit corona mulai mewabah di Tiongkok sejak desember lalu. Namun hingga akhir Januari ini, wabahnya tidak kunjung mereda. Malah semakin parah. Dilansir dari Simpleflying.com, sudah 500 orang terjangkit wabah ini, dan 17 di antaranya meninggal. Bahkan, Tiongkok mengkarantina kota Wunhan dengan menutup penerbangan dari dan ke luar Wunnhan untuk menghentikan  penyebaran penyakit ini. (ism/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia