Kamis, 27 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Rayakan Imlek dengan Busana ala Princess Tibet

24 Januari 2020, 15: 03: 30 WIB | editor : Wijayanto

GUNAKAN WASTRA NUSANTARA: Dua orang mengenakan busana karya desainer Stephanie Z yang memadukan tenun Sumba dalam busana ala putri kerajaan di Tibet.

GUNAKAN WASTRA NUSANTARA: Dua orang mengenakan busana karya desainer Stephanie Z yang memadukan tenun Sumba dalam busana ala putri kerajaan di Tibet. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Perkembangan fashion memang tidak ada matinya. Bahkan, gaya busana yang sempat ngetren puluhan tahun lalu, dapat kembali dihadirkan dengan beragam sentuhan yang kekinian. Tak terkecuali busana tradisional ala kerajaan zaman dahulu.

Adalah Desainer Stephanie Z yang mengusung tenun Sumba dari Indonesia ke dalam balutan busana ala putri-putri kerajaan di Tibet, Tiongkok. Stephanie mengaku, ia memang sengaja memilih salah satu kain etnik Nusantara ini karena warna-warnanya bisa dipadupadankan dengan beragam kain lain dan motif lain.

"Kali ini saya coba kombinasikan tenun sumba dengan chifon sutra printing dan brokat. Hasilnya bisa menjadi hanzhuang atau huafu (hanfu) yang luar biasa seperti ini," terangnya.

Padupadan karya Stephanie kali ini hadir dalam beragam model. Mulai dari outer, kimono, jumpsuit, hingga cocktail dress semi formal. Meski terkesan tradisional, kombinasi busana yang dihasilkan nampak mewah dan elegan. Sehingga bisa dipakai saat acara semi formal maupun pesta.

Sebetulnya, ada banyak macam baju tradisional Tiongkok. Namun sampai saat ini yang paling terkenal adalah cheongsam. Padahal, hanzhuang atau huafu telah eksis di Tiongkok selama lebih dari 220 tahun. Busana ini bahkan telah dikenakan oleh masyarakat sepanjang era kekaisaran dinasti Tiongkok. "Jadi pakaian ini sarat akan nilai historis yang panjang serta memiliki banyak corak model dan varian," ujarnya.

Sedangkan pada masa kini, busana hanfu dikenakan sebagai pakaian adat tradisional Tiongkok oleh para peminat maupun penggiat sejarah Tiongkok, terutama dalam film-film bergenre Wuxia Tiongkok. Busana ini juga sering dipakai pada perayaan-perayaan istimewa, seperti perayaan tahun baru Imlek, pesta pernikahan dan lain sebagainya.

"Karena itu, pilihan warna untuk kain tenun Sumbanya sendiri saya memilih warna merah dengan kombinasi chifon sutra warna kuning, agar suasana Imleknya juga masih terlihat di sini," katanya.

Stephanie tidak sepenuhnya mengusung tentang Tiongkok, ia juga mengusung sedikit ciri khas Jepang. Hal ini dapat dilihat dari model kerah yang digunakan. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia