Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Perajin Barongsai Masih Andalkan Bahan Impor

24 Januari 2020, 14: 12: 55 WIB | editor : Agung Nugroho

KREATIF: Barongsai kepala kucing dan kepala bebek produksi Julius Setiawan.

KREATIF: Barongsai kepala kucing dan kepala bebek produksi Julius Setiawan. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO-Bahan baku membuat barongsai ternyata sulit didapatkan di pasar lokal. Beberapa ornamen kepala barongsai masih mengandalkan produk-produk impor.

Seperti bulu yang menempel pada kepala barongsai, berasal dari bulu domba dan bulu kelinci yang masih didatangkan dari Tiongkok dan Australia. Demikian pula dengan aksesoris pada mata kepala barongsai.

Hal itu diakui oleh dua perajin barongsai di Sidoarjo. Julius Setiawan dan Adi Kurniawan. Julius, mulai meniti karir sebagai produsen barongsai sejak tahun 2005 ini selalu kesulitan mendapat bahan baku tersebut. “Bulu domba saya ambil dari Australia, sempat langka beberapa waktu lalu,” ujar pria kelahiran Sidoarjo 3 Juli 1989 itu.

Pom-pom yang menjadi pemanis pada kepala barongsai pun harus impor dari Malaysia dan Tiongkok. Sepasangnya cukup lumayan. Senilai Rp 300 ribu. “Untuk mata Rp 50 ribu sepasang impor dari Malaysia dan Tiongkok,” imbuhnya.

Tak hanya bulu, rotan berdiamater kecil pun sempat susah ia dapatkan di wilayah Sidoarjo. “Sampai pesan ke teman beli rotan dari Kudus,” jelas warga RW 8 Pondok Jati itu.

Maka dari itu harga jual barongsai dengan material impor buatan Julius tak murah. Dibanderol dengan harga Rp 5,5 juta. Perwatannya pun tak boleh sembarangan. Jika kotor, bulu pada barongsai tak bisa dicuci dengan sabun. Cukup di bersihkan dengan lap yang basah. “Kalau dicuci pakai sabun, bulunya jadi kering seperti rambak,” kata Julius lagi.

Untuk memberikan pilihan, Julius juga memproduksi barongsai dengan material sintetis. Harganya lebih terjangkau. Hanya Rp 2,5 juta per unitnya.

Hal senada juga dikatakan Adi Kurniawan. Barongsai buatannya tak hanya memakai bulu domba, tapi juga bulu kelinci. “Kalau material masih impor dari Tiongkok. Produk saya standar kompetisi. Justru banyak pesanan dari luar Sidoarjo, yakni Madiun, Jakarta hingga luar pulau Jawa,” kata warga perumahan Citra Harmoni itu.

Selain memproduksi sendiri, Adi juga mengimpor utuh barongsai dari Tiongkok. Harga jual barongsai produksi lokal buatan Adi, dibanderol lebih mahal dari produk impor. Lokal Rp 6 -7 juta. Impor Rp 5,5-6 juta. “Kualitas kita lebih bagus. Saat ini masih dikerjakan dua pegawai. Antrean kita saja sudah sampai bulan Juli,” pungkasnya. (rpp/vga) 

(sb/rpp/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia