Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Angka Perceraian di Bawean Tinggi, Selingkuh Jadi Pemicunya

24 Januari 2020, 15: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

CUKUP TINGGI: Suasana pengadilan agama di Pulau Bawean.

CUKUP TINGGI: Suasana pengadilan agama di Pulau Bawean. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

BAWEAN - Meski hanya ada dua kecamatan di Pulau Bawean, angka perceraian di wilayah itu terhitung cukup tinggi. Sepanjang 2019 lalu, ada 175 perempuan berstatus janda. Penyebabnya rata-rata karena tidak terima pasangannya selingkuh.

Staf pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) Pengadilan Agama (PA) Pulau Bawean Burhanuddin Lubis mengatakan, dari 175 kasus perceraian, 158 di antaranya disebabkan lantaran tidak adanya keharmonisan pasangan. “Ketidakharmonisan juga ada sebabnya, salah satunya mempunyai simpanan atau selingkuhan, sehingga terjadi gugatan,” katanya.

Ditambahkan Burhanuddin, meski Bawean termasuk wilayah kepulauan kecil, namun factor perceraian di Pulau Putri—sebutan Pulau Bawean—itu tergolong tinggi. Banyak kasus gugat cerai yang disidangkan lantaran ada wanita idaman lain (WIL) atau pria idaman lain (WIL). “17 kasus lainnya motifnya karena factor ekonomi,” jelasnya.

Masalah ranjang, kata Burhanuddin, juga bisa menjadi sebab terjadinya perceraian. Baik wanita maupun pria tidak bisa mendapatkan kepuasan nafkah batin. Akibatnya terjadi cek-cok dan saling menyalahkan antar pasangan hingga berujung perceraian. “Suami istri sering cek-cok, dan saling lempar tanggung jawab” tandasnya.

Setiap gugatan cerai, PA Pulau Bawean tidak langsung memprosesnya di meja hijau. Pihak pengadilan, memberikan memberikan arahan dan mediasi agar pasangan suami-istri bisa memperbaiki hubungan. Jika sudah tidak dicegah, baru digelar persidangan.

“Ketika orang daftar harus nunggu 3 bulan sebelum puncak masalah. Dan yang kedua, mediasi antara kedua belah pihak agar bisa damai kembali secara kekeluargaan,” tutup Burhanuddin. (yud/rof)

(sb/yud/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia