Kamis, 27 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Bermula dari Tilang SIM, Komplotan Pemalsu Dokumen Ini Terbongkar

Palsukan SIM, STNK, Akta Kelahiran

23 Januari 2020, 22: 16: 27 WIB | editor : Wijayanto

TERBONGKAR: Petugas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus pemalsuan SIM yang berhasil diamankan di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (23/1).

TERBONGKAR: Petugas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus pemalsuan SIM yang berhasil diamankan di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (23/1). (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Tiga orang pemalsu dokumen diamankan Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya. Ketiga tersangka diduga memalsukan surat izin mengemudi (SIM), surat tanda nomor kendaraan (STNK), akta kelahiran, hingga akta cerai.

Tiga orang itu berperan sebagai makelar hingga pencetak dokumen palsu tersebut. Mereka adalah Ache Angkasa alias Aceng, 36, warga Kesamben, Jombang; Alikhun, 70, warga Dusun Banjar Poh, Desa Banjarbendo, Sidoarjo; dan M Ma’aruf, warga Jalan Ketapang, Sukodono, Sidoarjo.

Para tersangka memalsukan surat-surat dokumen tersebut sesuai dengan pesanan pelanggannya. Ache bertugas mencarikan pelanggan. Biasanya ia menyasar warga yang hendak mengurus perpanjangan SIM karena sudah habis masa berlakunya. Dari sinilah, Ache alias Aceng menawarkan jasa bisa membuat SIM baru.

HASIL PRINT: SIM yang diproduksi tiga serangkai pemalsu dokumen; Ache, Alikhun dan Ma'aruf.

HASIL PRINT: SIM yang diproduksi tiga serangkai pemalsu dokumen; Ache, Alikhun dan Ma'aruf. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

“Mereka mengaku jika akan dibuatkan SIM palsu ke pelanggannya sebagai pengganti SIM yang sudah habis masa berlakunya atau hilang,” kata Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Arief Rizky Wicaksana, Kamis (23/1).

Setelah pelanggan setuju, Ache pun meminta uang Rp 800 ribu dan KTP sang pemohon. Selanjutnya KTP tersebut diserahkan ke Alikhun dengan uang Rp 600 ribu. Setelah itu, Alikhun menyerahkan KTP tersebut ke Ma’aruf.

Tersangka Ma’aruf mendapat upah Rp 400 ribu untuk mengerjakan SIM palsu sesuai pesanan. Tersangka mengedit sendiri dan kemudian mencetak sendiri SIM palsu itu.

“Tersangka mencetak SIM tersebut ke warnet. Pengakuan tersangka sudah setahun ini beroperasi. Kami juga menemukan template akta kelahiran serta akta cerai di komputer tersangka Maaruf,” ungkapnya.

Terbongkarnya sindikat pemalsuan SIM serta STNK ini bermula ketika anggota Satlantas Polrestabes Surabaya menghentikan salah satu pengendara di simpang empat Jalan Tembaan, Bubutan, Surabaya, pada 15 Januari lalu.

Saat itu pelanggar menyerahkan SIM yang ternyata palsu sehingga ditindak oleh Bripka Andi Hendro. “Kemudian barang bukti kami serahkan ke Satreskrim Polrestabes Surabaya untuk diselidiki,” kata Kasat Lantas Polrestabes Surabaya, AKBP Teddy Chandra.

Saat ditanya mengenai ide pemalsuan, tersangka Alikhun mengaku sebagai inisiatornya. Alikhun yang memiliki usaha biro jasa pengurusan bertemu dengan seseorang yang meminta perpanjangan SIM.

Namun, karena sudah habis masa berlakunya, sehingga tidak bisa. Ia pun menawarkan untuk membuatkan SIM palsu. “Orang itu mau, lalu saya menawarkan ke Ma’aruf yang bisa membuat SIM palsu,” kata Alikhun.

Berawal dari situ, ia bersama Ma’aruf berhasil membuat SIM palsu. Hingga akhirnya kedua tersangka itu mengenal Aceng. Aceng yang mencarikan orer, kemudian Alikhun yang menyerahkan ke Ma’aruf. Aceng mendapat keuntungan Rp 200 ribu, Alikhun juga Rp 200 ribu, sisanya Rp 400 ribu diberikan ke Ma’aruf.

Sementara itu, Ma’aruf mengaku mengedit sendiri selama ada KTP pemohon. “Saya otodidak dan hanya saya edit saja. Foto KTP saya pindah ke SIM,” ungkap Ma’aruf. (gun/rek) 

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia