alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Features
icon featured
Features

Pegiat Situs Kuno dan Budaya Sidoarjo Sering Terkendala Referensi

23 Januari 2020, 17: 24: 00 WIB | editor : Agung Nugroho

TEKUN: Tri Kisnowo Hadi (tengah) dan rekan-rekan komunitas Laskar Nuswantara saat memperbaiki temuan situs Sumur Kuno di Sedati.

TEKUN: Tri Kisnowo Hadi (tengah) dan rekan-rekan komunitas Laskar Nuswantara saat memperbaiki temuan situs Sumur Kuno di Sedati. (IST)

Share this      

SEJAK duduk di bangku SD Tri Kisnowo Hadi gandrung dengan pelajaran sejarah. Kini, ia bersama komunitasnya Laskar Nuswantara gentol mengangkat sejumlah situs budaya di Sidoarjo.

Hendrik Muchlison/Wartawan Radar Sidoarjo

Bagi Tri, mengangkat situs budaya atau situs kuno di Sidoarjo memiliki kebahagiaan tersendiri. Apalagi situs tersebut masih belum banyak dikenal masyarakat luas. “Untuk manfaat jangka panjang, bisa menjadi pengetahuan baru,” katanya.

Ia bersama sekitar 31 anggota komunitasnya sering menelusuri sejumlah situs kuno yang ada di Kota Delta. Tidak jarang, situs-situs itu baru ditemukan atau situs kuno yang dalam kondisi tidak terawaat.

Berkat kegigihan dan ketekunannya dan rekan-rekannya, situs kuno yang dulunya tak diketahui itu mulai banyak dikenal orang. Di antaranya, situs Terung di Kecamatan Krian, Sendang Agung di Urangagung Kecamatan Sidoarjo, Situs Watesari di Kecamatan Balongbendo, hingga yang terbaru situs Sumur Tua di Pepe Kecamatan Sedati.

Bagi Tri dan kawan-kawannya, menelusuri situs kuno bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia kerap kesulitan menemukan referensi tentang situs yang baru ditemukan. “Kebanyakan belum tertulis di buku sejarah karena masih baru, jadi kami hubungkan dengan sejarah makro,” katanya.

Seperti penemuan sumur tua di Sedati beberapa waktu lalu. Belum ada referensi yang menulis tentang sumur tersebut. Ia bersama teman-temannya akhirnya memahami dari sejarah besar jika dulunya pernah berdiri Kerajaan Jenggolo atau kerajaan Mataram di area situs.

Untuk menelusuri sejarah, biasanya dia banyak berdialog dengan tokoh-tokoh tua di sekitar situs yang baru ditemukan. Selain itu, mereka juga gemar melakukan diskusi dengan sejumlah sejarawan. Tentu dengan tujuan menemukan riwayat situs yang baru ditemukan.

Disamping itu, ia juga kerap menggalang dukungan sejumlah tokoh dan pemerintah desa setempat. Pasalnya, untuk mengeksplor situs yang baru ditemukan juga diperlukan peran serta pemerintah setempat. Mulai dari persoalan dana, hingga perizinan. (*/vga)

(sb/son/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia