Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Tanaman Kopi Belum Maksimal, Tren Ekspor Hanya Tumbuh 5 Persen

22 Januari 2020, 07: 56: 22 WIB | editor : Wijayanto

PERLU PENINGKATAN PRODUKSI: Pertumbuhan produksi tanaman kopi dalam negeri yang masih belum maksimal membuat pertumbuhan ekspor kopi juga tak signifikan.

PERLU PENINGKATAN PRODUKSI: Pertumbuhan produksi tanaman kopi dalam negeri yang masih belum maksimal membuat pertumbuhan ekspor kopi juga tak signifikan. (NET)

Share this      

SURABAYA - Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) Jawa Timur menyebut tren ekspor kopi tahun ini hanya mampu tumbuh 5 persen. Hal ini dikarenakan pertumbuhan produksi tanaman kopi dalam negeri yang hingga saat ini masih belum maksimal.

Sekretaris Gaeki Jawa Timur Ichwan Nursidik menjelaskan, sebenarnya permintaan pasar kopi di luar negeri maupun dalam negeri semakin meningkat. Tetapi di sisi lain, dari sisi perkebunan masih belum mampu memenuhi kebutuhan.

“Karena masalah keterbatasan bahan baku. Kalau mau meningkatkan produksi pun, kopi kita akan tetap terserap semua, baik di ekspor maupun untuk konsumsi dalam negeri,” terangnya.

Ichwan menuturkan, pasar dalam negeri sendiri tahun ini diperkirakan naik 8 – 10 persen seiring dengan tren pertumbuhan gaya hidup dan industri kafe dan restoran. Sementara, produksi kopi sendiri tahun ini diprediksi hanya tumbuh sekitar 7 persen.

"Sehingga dari pertumbuhan produksi tersebut, sebanyak 5 persen pertumbuhan akan diserap pasar asing dan 2 persen sisanya diserap dalam negeri," urainya. 

Ichwan mengatakan, kendala peningkatan produksi kopi saat ini adalah kurangnya akses sarana perkebunan kopi yang berada di ketinggian di atas 500 mdpl, serta belum ada dukungan atau bantuan bibit untuk petani kopi.

"Apalagi tanaman kopi setiap tahun akan mengalami penurunan produktivitas, terutama di usianya yang ke-30 tahun, sehingga penanaman berikutnya butuh bibit kopi yang bagus," jelasnya.

Berdasarkan catatan Gaeki, kinerja ekspor kopi Jatim pada 2019 mencapai 70.238,1 ton, yang terdiri dari 3.929,7 ton kopi jenis arabika, sebanyak 50.460,6 ton jenis robusta dan 15.847,6 ton kopi olahan. Volume ekspor tersebut meningkat 5 persen dibandingkan dengan 2018 yang hanya 66.881 ton.

Ichwan menambahkan, meski volume ekspor naik, tetapi secara nilai mengalami penurunan 4 persen yakni dari USD 154,85 juta pada 2018 menjadi USD 148,9 juta pada 2019. Penurunan itu terjadi lantaran suplai kopi yang sempat melimpah membuat harga turun, tetapi adanya musim kering pada Oktober lalu membuat suplai sedikit berkurang sehingga cukup mengerek harga.

Adapun sebanyak 10 – 12 persen sasaran ekspor kopi Jatim adalah pasar Jepang, dan disusul negara-negara Timur Tengah dan Eropa Timur, serta potensi pasar baru di Afrika Selatan, Mozambik dan Nigeria. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia