Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Gresik
Faktor Ekonomi Mendominasi, Kedua Selingkuh

2.149 Wanita Muda di Gresik Pilih Jadi Janda

19 Januari 2020, 08: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

GRESIK - Sepanjang tahun 2019, kaum perempuan di Kabupaten Gresik ramai menggugat cerai suaminya. Total 2.149 wanita di Gresik telah resmi menyandang status janda. Ironisnya, mereka rata-rata berusia 20 hingga 30 tahun. 

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Gresik, Emi Rumhastuti mengatakan, dari total 2.149 janda, sekitar 1.500 perempuan yang yang mengajukan gugatan cerai kepada suami. “Hampir 70 persen, perempuan yang minta gugat,” ungkap Emi. 

Berdasarkan data perceraian di Pengadilan Agama (PA) Gresik, sebanyak 2.149 perkara perceraian selama 2019. Masalah utama dari perceraian adalah faktor ekonomi dengan angka mencapai 1.083. 

Faktor kedua disusul oleh perselisihan terus menerus yang angkanya mencapai 489 perkara. Selanjutnya, 409 perceraian disebabkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Faktor yang juga mendominasi karena satu satu pihak meninggalkan pasangannya. Jumlah faktor tersebut mencapai 107.

"Dari Januari sampai Desember paling banyak ya ekonomi. Kedua faktor selingkuh," paparnya.

Menurut Emi, wanita di Gresik yang menggugat cerai didominasi oleh usia produktif.  "Rentan usia 22 hingga 30-an," terangnya.

Pihaknya menyoroti pasangan nikah muda. Menurutnya, faktor ekonomi juga sering menerpa pasangan nikah muda. Pasangan tersebut biasanya menikah karena dispensasi kawin yang juga mengalami tren meningkat.

Dispensasi kawin adalah, pasangan dibawah umur alias dibawah 19 tahun memaksa untuk menikah. Rata-rata mereka menikah di usia belasan seperti 16 tahun.

Pasangan yang menikah di bawah umur paling rentan bercerai. Penyebabnya, cara berpikir yang belum matang ketika bahtera rumah tangga diterpa masalah. Setiap ada masalah, mereka memilih bercerai.

"Setelah melahirkan anak minta cerai. Kadang ada juga yang dikasih suaminya uang belanja Rp 500 ribu per minggu minta cerai. Saat disidang saja tidak tahu,"  ungkapnya. 

Sementara itu, Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Gresik Markus mengatakan, untuk menekan angka perceraian, pihaknya melakukan pendampingan kepada calon pengantin.

“Ada pengarahan, sosialisasi untuk menghadapi mahligai rumah tangga,” kata dia. Bahkan, ada sekolah pra nikah yang digelar Kemenag supaya angka perceraian di Gresik menurun. “2020, target Kemenag memang menekan angka perceraian,” pungkasnya.

(sb/han/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia