Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Kreasi Rag Doll Handmade Berbahan Katun Muslin

18 Januari 2020, 07: 45: 41 WIB | editor : Wijayanto

HANDMADE: Firliana memamerkan cara membuat rag doll berbahan katun muslin.

HANDMADE: Firliana memamerkan cara membuat rag doll berbahan katun muslin. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Produk buatan tangan atau handmade banyak diburu masyarakat. Salah satunya boneka, selain digemari anak-anak, boneka juga banyak disukai oleh orang dewasa. Seperti boneka rag doll hasil karya perajin boneka Firliana.

Pemilik Peerly Handmade ini mengaku, mulai membuat boneka rag doll sejak 2018 silam. Sebelumnya, Firli, panggilan akrabnya, telah membuat boneka handmade berbahan kaus kaki atau sock doll. Kini, ia mulai mengkreasikan berbagai macam rag doll.

Mulai boneka yang menyerupai anak perempuan dengan rambut dan busana yang girly, putri duyung dengan ekor yang blinking, dan sebagainya. Rag doll buatan Firli biasanya berbahan katun muslin. "Kebanyakan, rag doll yang ada dipasaran pakai kain belacu atau linen," terangnya.

Menurutnya, kain belacu dan linen memiliki pori-pori yang besar. Oleh karena itu, ia memilih katun muslin yang teksturnya lebih halus. "Saya pilih kain impor. Selama ini, saya cari beberapa toko di Surabaya belum ketemu. Rencana ke depan mungkin saya akan memakai kain yang mudah dicari, seperti katun fabric," ujarnya. Dalam memilih bahan, Firli mengaku, memang pilih-pilih.

Menurutnya, sayang sekali jika produk handmade tidak menggunakan bahan-bahan yang bagus. "Sayang nanti kalau cepat rusak. Biasanya material yang bagus dan tidak akan berbeda ketika dipegang," jelasnya.

Firli menambahkan, rag doll bentuknya lebih ke arah karakter orang dengan model yang klasik. Dalam membuat kreasi boneka tersebut, Firli mengerjakan setiap tahapan secara handmade. Semuanya dikerjakan satu persatu.

Dalam membuatnya, Firli biasa menggambar pola terlebih dahulu. Setelah itu, pola yang telah digunting direndam dengan air teh selama enam jam. "Proses perendaman itu berfungsi untuk memberikan warna yang lebih cokelat. Sementara, saya pakai teh sebagai pewarna karena lebih aman karena alami," jelasnya.

Selain itu, warna dari rendaman air teh lebih natural jika dibandingkan dengan pewarna buatan yang terlalu cerah. Selain relatif aman, pewarnaannya lebih gampang. Kalau ingin lebih gelap, air teh bisa dipekatkan lagi. Selepas direndam, kain tersebut dikeringkan terlebih dahulu. Setelahnya, baru dijahit dan diisi dengan fiberfill. Setelah masing-masing bagian terbentuk, selanjutnya saya satukan. Kalau sudah, baru pemasangan rambut.

Menurut Firli, pemasangan rambut membutuhkan waktu yang lebih lama dan ketelatenan yang lebih ekstra. Ia memasangkan rambut yang terbuat dari seratus persen wol tersebut dilekatkan dengan cara ditusuk-tusuk.(cin/rak)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia