Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

‘Dijual’ Orang Tua ke Pengusaha Kayu Nafsu Blong

17 Januari 2020, 04: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Miris ya, hingga saat ini ternyata masih ada saja orang tua yang tega ‘menjual’ anak demi kepentingan sendiri. Seperti orang tuanya Karin, 24, ini. Yang memaksa anaknya untuk menikah dengan pengusaha tua kaya raya. Untuk menutup utangnya sendiri.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Di sebuah kantor pengacara yang berada di samping Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, Karin menceritakan kelegaannya. Kelegaan karena bisa lepas dari teror Donwori, 38, suaminya. Hasil perjodohan paksa yang dilakukan orang tua.

Sudah enam tahun Karin terpaksa mendampingi Donwori. Selama itu ia tersiksa fisik dan batin. Karena Donwori ini orangnya suka main tangan. Dan apesnya, juga nafsuan. Ia akan memaksa Karin untuk menuruti fantasi seksualnya yang aneh-aneh.

Sementara Karin tak ada pilihan lain untuk tidak menurut, karena jika tidak akan ada baku hantam di rumah. “Sukanya (hubungan seks, Red) yang menyiksa-nyiksa gitu. Efek kebanyakan nonton film bokep paling,” ujarnya.

Karin mengaku, sikap nafsuan ini sudah terlihat jauh sebelum menikah. Donwori memberikan kesan sekaligus rasa trauma yang tidak akan pernah Karin lupakan. Kala itu, ia tengah bekerja di ibu kota. Di perantauan itulah ia diberi tahu kalau akan segera dinikahkan. Pemberitahuannya pun melalui sambungan telepon.

Karin saat itu sempat menolak. Namun, keputusan orang tuanya sudah bulat karena terdesak keadaan. Kena tipu rekan bisnis, orang tuanya punya hutang ratusan juta. Orang tua Karin sudah tidak ada cara untuk membayar. Hingga Donwori datang menawarkan jasa untuk membayarkan utang orang tua Karin, asal si anak mau diperistri.

Belum juga bilang iya, Karin kala itu masih meminta waktu berpikir satu minggu, namun apa yang terjadi kemudian begitu mengejutkan. Donwori sudah tidak sabaran. Ia bertolak dari Palembang untuk mendatangi Karin di kosannya.

Kala itu, Karin tentu takut. Ia sengaja tidak membuka pintu yang diketuk Donwori berkali-kali. Segala teriakan dan dobrakan Donwori pun tak digubrisnya. “Mbak ngerti apa yang dia lakukan? Dia nekad mau bongkar jendela kosan saya. Dibantu tiga orang yang sama dia. Saking paniknya, saya telepon bapak kos untuk mengusir Donwori gila itu,” ceritanya.

Kejadian traumatik itu sempat Karin laporkan ke orang tuanya. Dengan harapan mereka menarik kembali perjodohan. Sayang, itu hanya kehaluan. Karena orang tua Karin sudah dibutakan dengan materi. Mereka memaklumkan tindakan Donwori. Malah dengan santainya mengatakan kalau Donwori hanya penasaran pengen ketemu calon istrinya.

 Setelah itu, perjodohannya malah dipercepat. Karin terpaksa meninggalkan pekerjaanya. Dan tinggal diam di rumah jadi permaisurinya Donwori. Sambil jadi boneka sekaligus samsak hidupnya. Lebam dan memar adalah kawan sehari-harinya.

Selama bertahun-tahun, Karin terus menerus memohon untuk ditebus saja. Namun tetap tak ada respons. Hingga suatu ketika Donwori kerap membawa pulang perempuan ke rumah. Karin juga melaporkan itu ke orang tua.

Selang beberapa minggu, tante Karin datang menjemputnya dan membawa sejumlah uang. Meminta Donwori menceraikan Karin. Karin sendiri tidak tahu itu uang dari mana. Kata mereka sih patungan keluarga. Ia masa bodoh, yang penting sudah lega. “Oh, nunggu Donwori selingkuh dulu baru mereka luluh ya. Mungkin selingkuh gak sesuai prinsipe bapak. Owalah,” pungkasnya.  (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia