Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Sidoarjo

Penderita Penyakit Dalam Meningkat karena Acuhkan Gaya Hidup Sehat

15 Januari 2020, 19: 02: 41 WIB | editor : Agung Nugroho

dr. Puguh Widagdo,Sp.PD. FINASIM

dr. Puguh Widagdo,Sp.PD. FINASIM (RIZKY PUTRI PRATIMI / RADAR SIDOARJO)

Share this      

KOTA-Data pasien rawat inap di RSUD Sidoarjo menunjukkan penyakit dalam masih mendominasi. Lima besar penyakit, bahkan dalam dua tahun berturut-turut selalu menjadi penyakit yang paling banyak ditangani rawat inap. Yakni diare, gangguan fungsi lambung, diabetes tipe 2 tanpa komplikasi, stroke dan gagal ginjal.

Di tahun 2018 pasien penderita diare yang dirawat sebanyak 2.204 kasus, tahun 2019 meningkat 2.863 kasus. Gangguan fungsi lambung 1.250 meningkat jadi 2.324 kasus. Diabetes tipe 2 tanpa komplikasi 1.276 meningkat jadi 1.995 kasus. Stroke 1.281 kasus, 2019 naik ke angka 1.332 kasus dan gagal ginjal 1.112 kasus, meningkat jadi 1196 kasus.

dr. Puguh Widagdo, Sp.PD. FINASIM dokter spesialis penyakit dalam RSUD Sidoarjo menjelaskan seseorang penderita diabetes dalam jangka waktu lama, manakala tidak dikontrol secara baik. Dalam artian mengkonsumsi obat tidak teratur. Obat yang oral maupun insulin. Itu akan berkontribusi mengalami komplikasi. “Komplikasinya banyak, bisa ginjal, stroke, komplikasi pada mata. Itu bisa terjadi,” katanya.

Komplikasi gagal ginjal sudah semakin bertambah di RSUD Sidoarjo. “Sehingga kita punya layanan hemodialisa yang cukup untuk membantu pelayanan pasien yang punya gagal ginjal stadium lima,” jelasnya.

Stadium awal gagal ginjal, biasanya ditandai dengan kencing yang berbusa. Pada kondisi normal, ginjal menyaring produk buangan dan kelebihan air pada tubuh untuk kemudian dikeluarkan melalui urine. Namun akibat gangguan ginjal, proses penyaringan tidak berjalan dengan semestinya sehingga protein bocor dan memasuki urine. Kondisi ini disebut proteinuria.

Penyebabnya bisa dikarenakan konsumsi obat-obatan di luar kendali. Misalkan obat penurun berat badan secara drastis. Semakin berkontribusi meningkatkan risiko terkena gagal ginjal.

Komplikasi diabetes juga sama. Adanya gangguan neuropati seperti nyeri, kesemutan, kram otot, hingga susah buang air kecil. Kesemutan di tangan dan kaki paling sering dirasakan.

Kemudian komplikasi lainnya, pandangan mata mulai kabur. Jika tidak dikendalikan, bisa mengakibatkan kebutaan.

“RSUD sudah memberikan layanan diabetes secara holistik. Di link-kan dengan klinik syaraf. Sebab diabet yang tak terkontrol bisa menyebabkan stroke juga,” tegas Puguh.

Masyarakat yang kedua orangtuanya yang menderita diabetes, harus lebih menjaga pola hidup. Sebab hampir 80 persen risiko diabetes akan menurun. “Namanya diabetes tipe 1,” ungkapnya.

Berbeda dengan diabetes tipe 2. Sifatnya karena lifestyle, kurang olahraga dan malas gerak.

Angka penderita diare juga banyak. Disebabkan penyebaran lalat yang hinggap di makanan. Dikatakan diare itu apabila frekuensi buang air besarnya lebih dari empat kali. Dengan adanya perubahan konsistensi pada fesesnya.

Kemudian gangguan lambung dispepsia. “Apakah itu karena sakit magh, apakah itu karena pola makan yang tidak teratur atau konsumsi obat sembarangan. Gejalanya, nyeri di uluh hati, mual, rasa begah di perut. Terasa seperti diremas-remas,” jabarnya. (rpp/nis)

(sb/rpp/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia