Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Pilih Pisah daripada Disuruh Nyusui Tuyul yang Diadopsi

15 Januari 2020, 04: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Karin, 43, bukanlah perempuan yang lurus-lurus amat. Namun, ia juga tidak pro dengan yang syirik-syirik. Itulah mengapa Karin selalu ngrusuhi manakala suaminya melakukan praktek klenik.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Karin akhirnya memutuskan menggugat cerai Donwori, 47, suami yang sudah lebih dari dua dekade menemaninya. Ia tak punya pilihan lain. Keputusan itu diambilnya karena semakin hari bukannya makin lurus, namun Donwori makin kendho alias bodoh.

Tak cukup dengan pendapatannya, Donwori mulai main klenik. “Dodolan tahunan yo gak tau nglirik ngonokan. Saiki dolanane aneh-aneh!” cerita Karin saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, beberapa hari lalu.

Karin sendiri tak begitu jelas praktek pesugihan apa yang dilakukan oleh Donwori. Ia baru tahu kalau suaminya mulai tak beres manakala ada sesajen bertebaran di sudut rumah. Bentuknya sama persis seperti sesajen yang biasa diletakkan di perempatan jalan. Kembang tujuh rupa yang mengeluarkan semerbak bau wangi yang mengerikan. Lengkap dengan telurnya.

Beberapa hari sebelumnya, Donwori juga sempat membongkar plafon rumah. Karin pikir saat itu Donwori sedang membenahi atap yang rusak. Rupanya tidak. Tapi Donwori sedang menalikan kain kafan di salah satu kayu penyangga rumah.

Mengetahui tindakan demi tindakan aneh suaminya, Karin tak tinggal diam. Ia bahkan sempat memarahi suaminya. Menentang keras praktek syirik yang dilakukannya. Namun, omongan Karin hanya dianggap angin lalu. Bukannya didengar, Karin malah kena marah. “Wes kon meneng ae, gak usah kakean cangkem,” ujar Karin menirukan ujaran Donwori yang memang keras perangainya.

Karin jelas merasa takut dengan praktek klenik yang dilakukan suaminya. Ya maklum, usianya sudah hampir setengah abad. Ia sudah lebih dari paham, konsekuensi apa yang dialami mereka para pencari pesugihan. Ada harga yang harus dibayarkan. Ia takut keluarganya nantinya jadi korban.

Itulah mengapa, Karin berusaha menggagalkan praktek klenik suaminya. Sebisanya. Salah satunya adalah menggoreng telur yang dipasang jadi pelengkap sesajen. Karin mengakui, ia melakukan itu beberapa kali. Tanpa takut keracunan atau kesurupan. “Pokok goreng ae, rasane yo biasa kok, sing penting awak dewe gak percoyo se,” ujarnya santai.

Sesuatu yang dipasang Donwori di atap pun Karin coba ambil tanpa sepengetahuan suaminya. Ngerinya, di atas plafon, tak hanya kain kafan saja, namun Karin menemukan berbagai barang ajaib yang tak ia tahu apa. Berbagai bungkusan di kain lusuh pun ada di sana.

Karin sendiri mengaku tak mampu menghentikan suaminya yang makin hari makin aneh. Kadang, Donwori bisa pergi beberapa hari. Meninggalkan dagangannya dan keluarga.

Ditanya ke mana pun, Donwori tidak mau mengaku. Karin curiga, suaminya ini sedang mencari wangsit. “Jarene saiki saingane tambah akeh. Jawane gak gelem kesaing, mangkane klenik ngene,” Karin menjabarkan alasan Donwori melakukan pesugihan.

Namun Karin merasa, bukannya semakin maju, ia merasa warung suaminya malah kian bangkrut. Lah bagaimana, sering ditinggal pergi. Karin sendiri makin putus asa dengan suaminya.

Di saat semakin kesal ini, Donwori makin memancing amarah Karin sampai ke puncak. Bisa-bisanya Donwori mengutarakan permintaan yang sampai mati pun, Karin tak akan mau mengabulkan. Dengan santainya Donwori meminta Karin untuk menyusui tuyul yang akan dia adopsi. Karin tak bisa lagi berkata-kata.

Tak tahu lagi bagaimana menghentikan suami gilanya, ia mengancam. Kalau Donwori tidak menghentikan semua itu, mendingan berpisah saja. Sayang, hati Donwori sudah menghitam dan kaku. Ia menolak.Sudah kadung nyemplung katanya. Karin pun menyerah. Ia takut dijadikan tumbal suami sendiri. “Cekne golek bojo maneh. Sing gelem nyusoni tuyule. Amit-amit lek aku,”pungkasnya. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia