Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Pemerintah Sidoarjo Kembangkan Pendidikan Vokasi

13 Januari 2020, 20: 11: 37 WIB | editor : Agung Nugroho

BERKOMPETEN: Salah satu siswa saat menerapkan pembelajaran berbasis IT.

BERKOMPETEN: Salah satu siswa saat menerapkan pembelajaran berbasis IT. (LUKMAN AL FARISI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO-Pendidikan di Provinsi Jawa Timur menjadi salah satu perhatian pemerintah nasional. Khusunya di bidang vokasi. Untuk itu, sejumlah lembaga pendidikan yang ada di masing-masing daerah diminta untuk dapat mengembangkan pendidikan vokasi dengan baik. Termasuk di Kabupaten Sidoarjo.

Kepala Bidang Pembinaan SMK Provinsi Jawa Timur Suhartono menjelaskan, di Indonesia ada sembilan provinsi dan satu kabupaten yang menjadi pilot projek kementerian perekonomian di bidang pendidikan vokasi. Di Jawa Timur, ada lima lembaga pendidikan yang menjadi pilot projek pendidikan vokasi.

“Di provinsi lain hanya ada sekitar dua lembaga pendidikan,” katanya.

Suhartono menjelaskan, dari kelima lembaga yang menjadi pilot projek itu, salah satunya berasal dari Sidoarjo. Lembaga pendidikan yang dimaksud adalah SMK NU Sidoarjo. Sekolah itu menjadi pilot projek vokasi oleh kementerian perekonomian. Salah satu yang menjadi perhatian adalah fokus pada pendidikan animasi.

Satu-satunya sekolah tersebut menjadi salah satu percontohan pendidikan vokasi yang bisa dikembangkan dengan baik. Sebab selama ini, tak banyak yang memperhatikan pendidikan vokasi. Sehingga Sidoarjo diharapkan menjadi salah satu kabupaten dengan pendidikan vokasi yang baik dan berkualitas.

“Untuk saat ini, pendidikan vokasi di Jatim masih di Malang saja,” ujarnya.

Pengembangan pendidikan vokasi sendiri sangat diperhatikan pemerintah pusat. Dia mencontohkan seperti di Kabupaten Tuban. Disana, kata Suhartono, ada satu SMK yang mendapat kucuran dana mencapai Rp 120 miliar. Anggaran yang besar itu merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah.

Di sisi lain, data badan pusat statistic (BPS) yang mengatakan bahwa lulusan SMK menjadi pengangguran terbanyak adalah keliru. Menurutnya, fakta di lapangan, yang banyak berkerja justru dari lulusan SMK. Hanya saja tidak berbentuk perusahaan, sehingga tidak dihitung sebagai seorang karyawan.

“Bayangkan koding dan desainer, gajinya sampai Rp 7 juta, dan itu tak tercatat sebagai pekerja, dan ini peluang untuk Sidoarjo,” paparnya. (far/nis)

(sb/far/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia