Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Salah Kirim Pesan WA, Malah Bongkar Perselingkuhan Sendiri

11 Januari 2020, 04: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Kalian pernah tidak salah kirim pesan lewat WhatsApp ? Biasanya hal ini terjadi lantaran ketika chatting-an dengan seseorang, lalu ada pesan baru masuk dan langsung terbuka. Tanpa disadari, pesan yang awalnya akan disampaikan di orang sebelumnya, terkirim pada orang yang salah. Tapi, gak tahu lagi kalau kejadiannya macam Donwori, 28, ini.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Di suatu sore yang lenggang, Karin, 27, mendapatkan WA dari suaminya. Pesan itu bernada romantis, berisi ajakan makan malam di sebuah restoran.  Sepertinya restoran langganan. “Yank, nanti jam 20.00 di Kafe xxx ya. Aku nyusul, pesenno dulu kayak biasane,” begitu bunyi chat Donwori yang dikisahkan Karin saat menunggu antrean sidang di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya,.

Karin yang mendapat pesan dari Donwori itu bingung. Ia baca chat-nya berulang-ulang. Ini maksudnya apa, pikirnya. Perasaan tadi berangkat tidak ada omongan mau makan di luar. Lalu, yank ? Sejak kapan Donwori memanggilnya yank? Bukannya panggilan sayangnya mami ? Siapa yank yang dimaksudkan?

Belum selesai Karin bertanya-tanya, Donwori sudah menarik pesan yang dikirimkan. Mungkin dipikir, Karin belum baca pesannya. Karena kebetulan Karin juga mematikan notifikasi pesannya. Andaikan Donwori tahu, kala itu mata Karin sudah berkilat-kilat karena kesal. Meskipun ia berpura-pura cool.

“Lalu tak bales, epok-epok gak ngerti. ‘ Ada apa, Mas. Kok pesannya dihapus?” jawab Karin. Tak sampai menunggu satu menit, pesan Karin sudah dibalas lagi oleh Donwori. ”Ma nanti ayah pulang telat, ada sedikit masalah di kantor. Harus lembur,” drama Donwori.

Mencium bau perselingkuhan, Karin pun memutuskan untuk mendatangi kafe yang Donwori sebut di pesan yang dia hapus tadi. Tentu tanpa bilang-bilang, ia cari tempat duduk paling strategis di pojokan, di mana ia tidak terlalu menonjol, tapi bisa mantau seisi ruangan.

Ia datang lebih awal. Ia pandangi setiap perempuan yang masuk. Ia tak menemukan sosok yang terindikasi kekasih gelap Donwori. Hingga Donwori kemudian masuk dan mencipika-cipiki perempuan yang duduk tiga kursi di depannya.

Sampai saat itu, Karin masih berusaha tenang. Ia biarkan dulu Donwori menikmati waktu bahagia dengan Sephianya itu. Sambil menunggu, ia amati perempuan selingkuhan Donwori. “Halah, gak ayu. Semokan juga aku. Sampek heran sendiri, kok mau Donwori sama dia,” gumannya kala itu.

Setelah gibah dengan diri sendiri, Karin yang kesal mendatangi meja suaminya. Ia tidak marah-marah. Ia hanya mampir, menatap Donwori lalu bilang. ”Owalah.. sekarang kantornya pindah sini ya. Hmm dapat sekretaris pribadi juga sekarang,” ujarnya sambil melengos pergi.

Apa yang terjadi kemudian? Apakah Donwori berlari menyusul Karin, mencoba meyakinkan Karin bahwa yang dia lihat tidak seperti yang Karin sangka? Tidak. Adegan drama itu tak terjadi. Donwori malah pulang satu jam setelah Karin sampai rumah.

Di ruang tamu yang gelap dengan Karin yang duduk di sofa, Donwori baru buka suara. Ia bahkan masih sempat mengelak kalau perempuan tadi hanyalah teman biasa. Tapi, teman mana yang yank-yank-an panggilan sayangnya. Teman macam apa yang pegangan tangan dengan tatapan mesum, seperti pemandangan yang Karin lihat di kafe tadi.

“Aku sudah males mau drama. Kalau areknya sudah tidak mau setia ya monggo cerai saja. Tapi yang buat mangkel, kalau sudah punya selingkuhan, kenapa masih kekeuh mempertahankan pernikahan sih. Sampai bawa-bawa orang tua untuk membujuk segala. Aku sih sekali diselingkuhi sudah, tamat, selesai,” pungkasnya, geram. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia