Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Lukisan Naturalis, Usung Budaya Tradisional Daerah di Atas Kanvas

08 Januari 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

SEPERTI ASLINYA: Pelukis Tri Edy Margono saat menyelesaikan lukisannya tentang Warok di kediamannya dikawasan Gubeng Kertajaya, Selasa (7/1).

SEPERTI ASLINYA: Pelukis Tri Edy Margono saat menyelesaikan lukisannya tentang Warok di kediamannya dikawasan Gubeng Kertajaya, Selasa (7/1). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Membuat sebuah gambar yang bercerita memang tidak mudah. Apalagi membuat gambar yang juga memiliki ruh sehingga tidak hanya memuaskan mata. Melainkan juga mampu membawa siapapun yang melihatnya hanyut ke dalam gambar tersebut. 

Namun, hal inilah yang dilakukan oleh Pelukis Tri Edy Margono. Laki-laki paruh baya ini mulai tertarik dengan dunia seni rupa sejak berada di bangku sekolah dasar. Bahkan kini, Edy panggilan akrabnya, konsisten dengan aliran naturalis dalam menghasilkan karya-karya lukisannya. 

Edy mengaku, lebih menyukai gambar seorang sosok atau figur yang lebih nyata. Oleh sebab itu, seringkali Edy melukis dengan menekankan suasana atau ilustrasi demi mendukung karakter yang digambarnya tersebut. 

"Jadi lukisan saya tidak sekadar jadi hiasan saja. Saya selalu berusaha membuat gambar yang bisa bercerita banyak kepada yang melihatnya," terangnya di Surabaya, Selasa (7/1).

Memiliki background sebagai ilustrator membuat Edy tidak kesusahan dalam melukis karakter tokoh yang dinginkannya. Sebagian besar lukisan Edy menggambarkan sebuah kesenian tradisional dari berbagai daerah. Seperti lukisan salah satu personil dalam pertunjukkan Reog Ponorogo, Tari Peresean dari Nusa Tenggara Barat, hingga Silat Harimau dari Sumatera Barat. "Memang lebih menyukai local wisdom seperti kesenian dan permainan tradisional. Jadi rata-rata lukisannya mengarah ke sana," ujarnya. 

Dalam menggambar objek manusia, menurut laki-laki kelahiran Tuban ini, yang perlu diperhatikan ialah ketepatan anatomi tubuh, mulai dari proporsi gerakan tangan dan ototnya hingga draperi. Yakni arah gerak kain atau lipatan kain saat tubuh bergerak. Apalagi inspirasi Edy dalam melukis selama ini didapat dari melihat pertunjukkan-pertunjukkan seni. "Itu kan ada teorinya juga. Tapi kalau gambar ada yang salah biasanya saya juga ngrasa nggak enak," katanya. 

Seperti saat menggambar warok yang merupakan sosok yang dibanggakan. "Menggambar warok harus bisa menaruh rohnya di situ. Dia memiliki wibawa yang bisa dilihat dari sorot matanya, dan gerakannya pun melambangkan kekuatan dan kebijaksanaan," imbuhnya. 

Biasanya Edy membutuhkan waktu kurang lebih sekitar dua hari untuk menyelesaikan satu buah lukisan berukuran 40x40 sentimeter. Menggunakan foto sebegai acuan dalam membuat detail-detail kecil yang khas sehingga tak boleh ketinggalan. Misalnya untuk detail batik di kain udeng. "Ini butuh foto, lainnya imajinasi. Yang penting ekspresinya juga harus jelas," katanya. (cin/nur)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia