Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Perilaku Kasar Orang Tua Bisa Picu Self Harm di Diri Anak

06 Januari 2020, 18: 33: 07 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

SURABAYA - Pasien yang melakukan self harm (melukai diri sendiri) menjadi tren kunjungan baru di Poli Jiwa RSUD Dr Soetomo Surabaya. Kebanyakan pasien merupakan remaja atau dewasa muda. Pasien melukai diri sendiri dengan menyilet lengan atau tindakan menyakiti diri sendiri yang lain.

Dokter spesialis kedokteran jiwa RSUD Dr Soetomo dr. Yunias Setiawati Sp.Kj menjelaskan, tren ini terjadi setahun terakhir. Seiring dengan masyarakat yang semakin sadar bahwa mengunjungi poli jiwa bukanlah sesuatu yang tabu. “Setidaknya setiap saya praktek, ada saja yang datang dengan keluhhan self harm,” ujar Yunias.

Menurutnya, remaja yang memiliki kecenderungan melakukan self harm biasanya berada dalam tahap penyakit mental depresi. Biasanya dipicu oleh pola asuh orang tua yang salah. Misalnya seorang ayah yang mendidik dengan kekerasan, meneriaki dan menghardik anak. Juga orang tua yang bertengkar di depan anak sendiri.

“Orang tua kalau bertengkar di depan anak-anak, anak yang belum tahu apa-apa akan berfikir, oh, bapak ibukku bertengkar gara-gara aku,” lanjutnya.

Jika hal ini dilakukan secara terus menerus, anak akan menyimpan kemarahan kepada orang tua yang tidak bisa diungkapkan.Sehingga menumpuk dan melampiaskan kemarahan kepada diri sendiri.

Mereka menjadi benci kepada diri sendiri dan melakukan self harm. Hal ini karena otak mereka mencerna, bahwa melakukan tindakan kekerasan, termasuk ke dalam diri sendiri adalah bentuk yang tepat untuk mengungkapkan kemarahan.

Ketika anak bertumbuh dewasa, emosi-emosi yang tidak tersalurkan itu pada akhirnya meledak. Ditambah, anak saat ini cenderung kesepian. Mereka tidak memiliki teman karena terjebak pada gadget masing-masing. Juga orang tua sibuk yang enggan meluangkan waktu kepada anak.

“Sehingga mereka bergabung dalam kelompok sosial yang isinya sama-sama anak depresi. Bahkan yang menyilet-nyilet tangan itu ada lho komunitasnya di Surabaya. Sehingga mereka terpengaruh, padahal sebenarnya mereka tahu, tindakan mereka salah,” lanjutnya.

Karena itu, Yunias menyarankan kepada orang tua agar melakukan parenting dengan benar. Mendisiplinkan sepantasnya sesuai usia anak. Tanpa kekerasan dan melukai hati. Juga konsisten.

”Orang tua biasanya cenderung memarahi habis-habisan, lalu merasa bersalah sehingga permintaan maafnya dengan menuruti apapun keinginannya. Ini nggak baik. Kalau a ya a, sehingga anak tidak bingung dan salah persepsi,” tukasnya. (ism/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia