Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Kuat Urus Suami Sakit-sakitan, Pilih Minggat

05 Januari 2020, 04: 09: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Seorang  dokter spesialis kesehatan jiwa memberi saran, sebelum menikah pastikan calon suaminya sehat fisik. Kalau sudah mengandung kolesterol, misalnya, jangan lantas cari suami yang deritanya sama. Atau lebih bagus kalau dua-duanya sehat. Katanya, biar tidak jadi beban pikiran kalau sudah berumah tangga.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Benar juga. Karena cukup banyak pasangan yang rumah tangganya berantakan gara-gara salah satu pasangan sakit parah. Lalu, karena lelah mengurus, pasangan satunya menyerah dan memilih untuk selingkuh. Atau kabur menikah lagi dengan yang lain. Yang lebih sehat.

Kalau kejadiannya sudah begini, biasanya istri yang disalahkan. Dikata tidak setialah, mau cari enaknya tapi setelah susah ditinggallah. Dunia penuh julid dan judgement. Tanpa mengetahui keadaan yang terjadi sebenarnya.

Keluhan ini juga dirasakan oleh Karin, 47. Yang sudah mengibarkan bendera putih. Tanda tak mampu mengurus suaminya yang diabetes akut. Karena sakit itu, otomatis Karin yang gantian jadi tulang punggung keluarga. Ya untungnya Donwori, 60, bukan orang kantoran. Tapi kerja di toko miliknya sendiri. Jadi tidak jadi beban sekali bagi Karin.

Karin bukannya perempuan tak tahu diuntung yang tak mau mengurus suaminya ketika sudah bobrok. Bukan juga karena tergoda duda yang lebih mapan. Tapi Karin lelah kena siksaan mental terus-menerus oleh Donwori. “Sikile memang sudah rusak, tapi lambene ogak. Muring-muring ae penggaweyane,” keluh Karin di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.

Karin mengatakan, suaminya punya temperamen yang buruk. Ngeyelan pula. Sudah sakit, namun diminta disiplin minum obat atau menjauhi yang manis-manis pun enggan. Kalau Karin mencoba mengingatkan, Donwori tak terima. Giliran jatuh sakit, Karin yang kesusahan lagi. ”Lek masakanku gak cocok, bagine kurang enak ya dibuwak mbek dekne,” lanjutnya dengan wajah cemberut.

Tak hanya itu saja penyiksaan mental yang dialami oleh Karin. Tak jarang, sudah sakit bukannya semakin sabar dengan istri, Donwori malah curigaan. Menuduh mau menikah lagi kalau Donwori mati adalah kata-kata yang Karin dengar setiap hari.

Ia juga menuduh Karin tidak peduli lagi kepadanya, mentang-mentang ia sudah jatuh sakit dan tidak bisa memberikan nafkah. Kalau sudah meluncurkan kata-kata ini, biasanya tuduhan Donwori merembet ke mana-mana.

Donwori mulai mengungkit pemberian, yang ia anggap ‘jasanya’ kepada keluarga Karin. Mengatakan adik-adik Karin bisa stabil hidupnya karena pertolongannya. Kalau sudah begini, biasanya Karin akan tutup telinga. Benar, Donwori memang membantu, namun sebenarnya tidak sebanyak yang ia sendiri katakan. Jumlahnya kecil. Adik-adiknya sukses, ya hanya karena usahanya sendiri.

Seakan tak cukup, Donwori juga kerap membombardir Karin dengan sejuta panggilan menyakitkan. Karin kerap dikatai bodoh, goblok, oon dan panggilan sebangsa sesaudaranya.

Awalnya ia memang diam, namun lama-lama pertahanannya jebol setelah percekcokan dengan Donwori kembali terjadi untuk terakhir kalinya. Masalahnya sepele, diminta meminum obat enggan, Karin pun akhirnya meledak. Eh, Donwori makin meletup-letup. Mohon maaf, ini kembang api tahun baru apa gimana ya?

“Mbentak-mbentak. Aku isok nguripi awakku dewe, gak butuh kon c** a** t***(dan segala sumpah serapah yang lain). Minggat-minggato kono,” begitu kata-kata tajam dan menukik yang menghujam jantung Karin.

Dan saat itulah, pertahanan Karin jebol. Ia sudah menumpuk stres, makin kurus lagi kena maki tiap hari. Akhirnya pernikahan itu, Karin cukupkan.  Cukup sampai di sini alias cekap semanten. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia