Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Tiap Hari Tiga Anak Berobat Karena Kecanduan Game

04 Januari 2020, 08: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Bahaya game bagi anak dapat menyebabkan gaming disorder.

Bahaya game bagi anak, dapat menyebabkan gaming disorder. (ilustrasi)

Share this      

SURABAYA-Setidaknya tiga anak mengunjungi Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo setiap harinya karena kecanduan game online. Kebanyakan pasiennya adalah anak laki-laki. Dengan rentang usia 8 – 15 tahun. Atau antara kelas V SD hingga awal SMP. 

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RSUD Dr Soetomo dr Yunias Setiawati Sp.Kj menjelaskan, anak-anak ini kecanduang game online atau istilah kedokterannya disebut gaming disorder. Tren ini terjadi enam bulan terakhir dengan pasien yang didominasi oleh anak-anak. “Saat ini eranya adalah generasi z. Era dimana anak-anak sejak kecil sudah terpapar media elektronik dan internet. Karena terpapar, menyebabkan pembiasaan. Dari pembiasaan akhirnya kecanduan,” jelasnya ditemui di Poli Jiwa RSUD Dr Soetomo, Jumat (3/1).

Kecanduan ini, lanjutnya, mengaktivasi neurotransmitter dopamin, yakni hormon kesenangan. Yang membuat penderitanya senang jika bisa mengakses game online-nya. Ia akan mencari sumber internet setiap saat untuk merasa senang. Jika tidak mendapatkan apa yang tidak diinginkan, mereka mudah marah, bingung dan tersinggung. Anak dengan gangguan ini juga cenderung menarik diri dari lingkungan sosial dan membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk bermain.

Keadaan ini tidak bisa dianggap remeh. Karena melalui kecanduan menghadap layar terus terusan, mata menjadi lelah. Sehingga mempengaruhi konsentrasinya. Akhirnya yang terjadi proses belajar terganggu. Atau untuk anak-anak balita terganggu perkembangan bicara dan yang lain. Lebih parah, mereka akan mengalami depresi. Hal ini disebutkan karena saat bermain game, hanya dua puluh persen alam sadar yang aktif, sisanya alam bawah sadar. “Kebanyakan yang datang awalnya keluhannya gangguan belajar, ternyata setelah diwawancara sudah pada tahap kecanduan,” lanjutnya.

Yunias menyampaikan, gaming dissorder sudah dikatakan gangguan jiwa. Yang penyebabnya juga tidak jauh dari lingkungan dan pembiasaan dari orang tua. Misalnya, saat ini orang tua yang apa-apa internet untuk mengontrol anak. Agar mau makan diputarkan Youtube. Atau agar diam dipegangi handphone. Tindakan ini tentunya adalah tindakan yang salah.  

Kurangnya pengawasan dan simulasi dari orang tua juga menjadi pemicu adanya gaming dissorder. Orang tua yang terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk bermain dan membimbing belajar anak. “Juga kurang tempat bermain anak-anak. Lahan semakin padat. Sehingga anak-anak mainnya di handphone,” lanjutnya.

Pada anak-anak, sebenarnya memegang gadget, baik bermain game atau sosial media ada batasan tersendiri. Untuk anak-anak di bawah usia enam tahun, maksimal setengah jam. Sementara untuk anak enam tahun ke atas sebaiknya satu atau dua jam. Hal ini karena pada anak-anak, saraf-saraf salah satunya mata masih berkembang. Radiasi juga dikhawatirkan mempengaruhi anak-anak.

“Anak di bawah enam tahun pikirannya masih dibatasi fantasi. Nanti jika terlalu terpapar internet, mereka bisa meniru apa yang dilihatnya di dalamnya. Nanti tidak sengaja mereka membuka situs tertentu, larinya ke cyber sexual,” lanjutnya. 

Kecanduan game online pada anak-anak, lebih berat adiksinya ketimbang pada dewasa. Karena perkembangan otak mereka yang belum sempurna, sehingga belum bisa mengontrol keinginannya untuk bermain. Pengaruh dari dalamnya juga semakin mudah terserap. (ism/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia