Rabu, 19 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Kabur dari Rumah Lima Tahun sebelum Cerai

03 Januari 2020, 03: 25: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Meski bisa cari duit sendiri, yang namanya istri ya tetap ingin dinafkahi. Oleh karena itu wahai para suami, jangan males-malesan, lepas tanggung jawab. Apalagi sampai bergantung pada istri. Tidak macho sama sekali.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Suasana Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, dua hari jelang tahun baru, masih ramai saja. Sepanjang lorong penuh orang dengan berbagai kepentingan. Kursi-kursi yang sudah diperbanyak, juga  overload. Banyak yang berdiri bergerombol karena tak kebagian tempat duduk. Semua orang nampak sibuk. Namun ada satu hal yang menyita perhatian. Yang tak lain adalah suara yang keluar dari pengeras suara. Yang tak henti-hentinya memanggil peserta sidang perceraian. “Nomor antrean 5xx masuk ke ruang sidang 1,” atau “Nomor antrean xxx ke meja registrasi untuk mengambil akta cerai”. Begitu kurang lebih bunyinya.

Mungkin, gerah dengan informasi itu, seorang bapak-bapak berjaket putih berceletuk. “Owalah, ket mau pengumumane cerai-cerai. Sakjane lapoo cerai-cerai. Opo sakdurunge rabi iki gak disawang disek,” gerutunya yang ditanggapi senyuman saja, oleh beberapa orang di sampingnya, termasuk penulis.

Belum puas mengeluh, ia berujar lagi. “Asline tuo-tuo kok podo cerai iki sing digoleki opo. Jan nggumun,” lanjutnya.

Lagi-lagi, kami hanya tertawa. Namun tidak dengan perempuan berjubah putih di belakangnya, yang langsung menyambar omongan bapak tadi. “Pas durung duwe anak sregep kerjo. Giliran wes nduwe anak malah gak gelem kerjo. Penggaweane mangan, turu, dolan, pripun katene mboten cerai, Pak,” ujar perempuan bergincu merah itu.

“Lah bojo kulo, gak tahu mergawe, ngandelno kulo sing mergawe ket isuk. Tapi njaluke mangan enak terus, turu enak, saben minggu jalan-jalan. Sinten sing betah yo,” lanjutnya lagi, mengeluh.

Ya, gara-gara alasan suami yang malas inilah Karin akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan Donwori. Sebenarnya, keinginannya tak dikabulkan. Namun ia ngeyel. Ngeyelnya juga totalitas, sampai kabur dari rumah selama lima tahun.

Karin mengaku, ia pergi dari rumah tak membawa kekayaan sedikit pun. Padahal, dari keuntungannya berdagang, ia sudah punya rumah tiga, mobil dan motor beserta kekayaan lain. Namun ia relakan begitu saja. “Kulo medal saking omah murni mung nggowo klambi sing tak gawe kaleh perhiasan tok. Rumah yang ada di Waru, harganya Rp 3 M tak tinggal,” lanjutnya.

Keputusan Karin untuk kabur meninggalkan kekayaan, jelas kena protes oleh anak dan keluarga. Namun dia tidak mau ribet. Karena sudah hafal sendiri kalau Donwori ruwet. Kalau ia keluar bawa barang kekayaan, yang ada, malah panjang urusan.

Apa yang Karin lakukan selama lima tahun  itu, ia tidak banyak cerita. Ia bahkan pamer kalau sudah ada yang menggodanya. Dengan bangga ia mengatakan, jika di usianya saja masih banyak yang mengejar, berarti dia masih cantik. Setelah sesumbar itu, tak ada informasi lagi yang disampaikan Karin.

Kejadian selanjutnya tak pernah terduga, cenderung konyol. Saat itu penulis kembali fokus ke layar handphone. Hingga kemudian tercengang karena Karin, yang duduk di kursi belakang, tiba-tiba didatangi segerombolan perempuan. Perempuan pertama duduk selonjoran menghadap Karin. Sejurus kemudian Karin memijat dengkulnya. Lalu Karin menengadahkan tangannya ke atas, memejamkan mata dan mulutnya komat-kamit merapal doa.

Selesai satu, datang lagi perempuan lain. Ia mengeluh perutnya sering sakit. Karin dengan sigap mengulang amalan yang ia lakukan pada perempuan pertama. Ia pegang perutnya, mengangkat tangan ke atas, lalu komat-kamit lagi. Ia bahkan meresepkan sepulang dari PA agar ibu tadi minum obat maag tiga butir dan buah tomat. Batin penulis, hah?  Apa gak overdosis tuh!

Semakin lama, orang-orang makin banyak mengerumuninya. Ada yang sekadar penasaran, ada juga yang aji mumpung, berobat gratis. Lhoalaah iki PA kok jadi tempat praktek dukun dadakan begini. “Saya bukan siapa-siapa, sama saja makan nasi seperti ibu-ibu juga. Ini semua hanya karena pertolongan Allah,” celetuknya sembari tersenyum. Seperti menjawab tanda tanya yang muncul di muka setiap orang, sambil tersenyum simpul.

Kekagetan belum selesai, orang-orang makin banyak berdatangan. Kali ini laki-laki juga. Namun, tiba-tiba Karin berdiri, lalu beranjak pergi melewati lorong yang panjang itu tanpa kata. Meninggalkan penulis dan orang-orang yang terbengong-bengong. Lholalah.. iki mau opo se, kok sulapan ngunu. (*/opi)

 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia