Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Kecewa Punya Suami Anak Orang Kaya dan Terpandang, Njekethek!

30 Desember 2019, 15: 57: 16 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Tidak semua, tapi rata-rata perempuan mendambakan punya suami dari keluarga mapan dan terpandang. Dengan harapan bakal suaminya juga sukses seperti orang tuanya. Sehingga tak susah kalau sudah berumah tangga. Sampai lupa jika kenyataan tak selalu seindah angan ya, Rosalinda!

Ismaul Choriyah-Wartawan Radar Surabaya

Setidaknya pemikiran inilah yang ada di benak Karin, 25, saat menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya. Karin sebenarnya tak pernah tahu seperti apa Donwori, 29, sosok yang akan jadi pasangannya.

Bagaimana karakternya, bagaimana sikapnya saat dihadapkan masalah. Apakah dia tim pakai saos atau hanya kecap saja saat makan bakso. Apakah Starwars atau Dilan 1991 selera filmnya, Karin has no clue, tak tahu. 

Yang Karin tahu, Donwori punya wajah manis. Itu pun ia tahu ketika proses perkenalan singkat. Tiga bulan sebelum menikah. Karin sendiri sebenarnya belum yakin dengan calon suaminya itu. Mau yakin bagaimana kalau hanya melihat sekali tanpa interaksi.

Namun, segala keraguannya segera ditepis oleh orang tuanya dengan iming-iming kalau mau dinikahi Donwori, hidup Karin bakalan enak. “Ayahnya Donwori PNS. Katanya nanti mau dicarikan pekerjaan di kantor tempatnya bekerja,” cerita Karin ketika ketemu wartawan Radar Surabaya di Kantor Pengadilan Agama Klas (PA) 1A Surabaya, awal pekan lalu.

Akhirnya, menikahlah Karin setelah dibujuk oleh orang tuanya. Namun bukannya mendapatkan apa yang diiming-imingkan, hidup Karin malah sengsara. Benar, setelah menikah, ia difasilitasi rumah oleh mertua. Namun biaya operasionalnya dilepas (Ya iyalah, ya masak mau di-supply orang tua terus).

Namun rupanya, ini yang jadi masalah serius. Karena suaminya, Donwori, sama sekali tidak bertanggung jawab untuk menafkahi. Kerja sih kerja, namun gaji dari pekerjaannya dilarikan ke mana ini yang jadi misteri. Meski Karin kini jadi tanggung jawabnya, Donwori woles dan tak tahu diri. “Uang masak, uang listrik dan semuanya, aku Mbak yang bayar. Dia apa tahu,” ujar Karin, kesal.

Keadaan seperti ini Karin tahan sampai berbulan-bulan. Ya untungnya ia bekerja. Jadi, pusingnya masih ada solusi. Tapi kalau diterus-teruskan, ia sendiri yang rugi. Punya suami tapi rasa hidup sendiri, tekor lagi.

Tak jarang Karin dibuat ngenes. Ia kadang sengaja tidak masak. Agar suaminya peka. Basa-basi tanya lah kenapa tidak masak. Apa tidak punya uang belanja atau bagaimana. Eh boro-boro bertanya, Donwori malah pilih pulang makan ikut orang tua. Ujung-ujungnya Karin yang kena. Ditelepon mertua, ditanyai kok pengantin baru mengurus suami saja tak bisa.

Karin sendiri sebenarnya juga tidak diam saja. Ia sendiri sudah berkali-kali mencoba mengajak Donwori berkomunikasi. Membahas planning jangka panjang rumah tangga sampai investasi untuk anak-anak.

Sekadar bagaimana alokasi uang untuk makan dan bensin saja, Donwori tewah-teweh ketika ditanyai. “Yak apa ya, areke iku terlalu pendiam. Gak bisa diajak komunikasi. Kalau bahasa gaulnya, insecure anaknya,” lanjutnya.  

Pada akhirnya, perempuan berhijab ini memilih mundur di usia lima bulan pernikahan. Masih sangat muda untuk memutuskan berpisah. Namun, Karin sudah tidak tahan kalau ia yang harus berjuang sendirian.

“Aku ini anak pertama, masih harus ngurusi adek-adek. Juga bapak yang mulai sakit-sakitan. Lha ini suamiku gak ngerti, sek seneng dolan. Bisa tua mendadak aku diperas tenagaku untuk menghidupi dia,” pungkasnya. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia