Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Cegah Polusi, Cangkang Kelapa Sawit untuk BBM Pabrik Tahu di Krian

14 Desember 2019, 14: 16: 35 WIB | editor : Wijayanto

CEGAH POLUSI: Proses produksi di salah satu IKM tahu Desa Tropodo Kecamatan Krian.

CEGAH POLUSI: Proses produksi di salah satu IKM tahu Desa Tropodo Kecamatan Krian. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SIDOARJO – Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian terus menjadi perhatian Pemkab Sidoarjo. Apalagi, setelah bulan lalu 47 IKM mendeklarasikan stop menggunakan bahan bakar sampah plastik.

Setidaknya dalam deklarasi tersebut ada enam poin penting, Antara lain tidak akan menggunakan plastik sebagai bahan bakar pembuatan tahu. Sebagai gantinya akan menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan, tidak akan produksi berdampak pada pencemaran lingkungan, mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku, menjaga mutu dan kualitas tahu serta mengurangi emisi gas buang saat produksi.

Beragam cara konversi bahan bakar terus digalakkan. Sebuah perusahaan kertas di Surabaya bahkan rela memasok kayu bakar secara gratis kepada produsen tahu di desa tersebut secara gratis selama tiga bulan sejak akhir November lalu.

Setiap dua hari sekali, pihaknya mengirim satu unit mobil pikap dengan volume kayu bakar seberat 600 sampai 700 kilogram untuk untuk dimanfaatkan secara gratis oleh produsen tahu di desa tersebut.

Seorang produsen tahu dari Desa Tropodo, Zainal Arifin, mengaku sudah mulai beralih menggunakan kayu sebagai bahan bakar pembuatan tahu, meski harus menambah ongkos produksi dari Rp 200 ribu dalam sehari menjadi Rp 350 ribu. “Sudah ada beberapa produsen yang beralih,” katanya.

Selain bantuan dari perusahaan tersebut, gas, wood pallet dan bungkil kelapa sawit menjadi alternatif lainnya.  Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Tjarda menyampaikan, gas saat ini belum memungkinkan untuk dipasang. Sebab layanan gas yang mengalir disana sementara masih untuk industri besar saja.

Kemudian, wood pallet jatuhnya tetap mahal. Kompor pembakar ukuran paling kecil seharga Rp 5 juta. Harga per ton Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. “Yang pakai baru satu orang,” terang Tjarda.  

Maka dari itu, pemkab menawarkan cangkang atau yang akrab disebut bungkil inti kelapa sawit sebagai alternatif beriktunya. Diklaim lebih murah. Harganya Rp 1 juta per ton. “Bantuan dari perusahaan swasta juga. Dalam waktu dekat dikirim satu kontainer dari Kalimantan,” ujarnya.

Jika menggunakan bungkil para pelaku IKM tidak perlu lagi membeli kompor tambahan. Cukup memakai tungku yang sudah ada.  "Cangkang sawit memiliki kelebihan sebagai bahan bakar yang ramah terhadap lingkungan karena tidak mengandung sulfur sehingga tidak menghasilkan gas pencemar," pungkasnya. (rpp/vga)

(sb/rpp/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia