Kamis, 23 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Datangi Gedung Dewan, Warga Minta PT GJT Hengkang

11 Desember 2019, 21: 48: 21 WIB | editor : Wijayanto

AUDIENSI: Warga melakukan dialog dengan Kapolres AKBP Kusworo Wibowo dan Ketua Dewan, Fandi Akhmad Yani.

AUDIENSI: Warga melakukan dialog dengan Kapolres AKBP Kusworo Wibowo dan Ketua Dewan, Fandi Akhmad Yani. (FAHTIA AINUR ROFIQ/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK – Warga sekitar PT Gresik Jasa Tama (GJT) terus menuntut relokasi pabrik bongkar muat batubara tersebut. Rabu (11/12), warga kembali mendatangi kantor DPRD Kabupaten Gresik. Kedatangan warga untuk menegaskan bahwa relokasi GJT merupakan harga mati.

Kedatangan warga sekitar PT GJT ditemui langsung Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani dan Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo. Selain itu juga hadir Wakil Ketua Komisi I Syaichu Busyiri.

"Kami ke sini karena diundang dewan. Tapi pada intinya kami tetap meminta GJT direlokasi. Ini harga mati," tegas perwakilan warga Kemuteran, Syamsul Maarif.

Menurut dia, terkait keluhan GJT yang rugi miliaran rupiah itu salah mereka sendiri. "Kan sudah ditawari pindah ke Maspion, kenapa tidak mau," ujarnya.

Sedangkan terkait dengan perusahaan lain yang rugi karena suplai batu bara berkurang itu juga salah mereka sendiri. Sebab, sudah ada solusi bongkar muat di Lamongan dan Probolinggo.

"Kalau alasan mereka karena cost tinggi, berarti mereka hanya memikirkan untung saja. Tidak memikirkan kesehatan kami," ungkapnya.

Yang jelas, warga terdampak tetap sepakat harus berhenti operasional bongkar muat batu bara. Ini sudah sangat menggangu masyarakat sekitar. "Kami tetap minta harus relokasi," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan pihaknya mendatangka  warga untuk meminta masukan. Sebab, dalam waktu dekat pihaknya akan kembali melakukan pertemuan denga sejumlah pihak terkait. 

"Apapun usulan warga akan kami sampaikan. Pertemuan ini sebagai landasan saya untuk menyampaikan kepada para pihak," tegasnya.

Di tempat yang sama, Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo mencoba menengahi permasalahan ini. Pihaknya meminta  warga tidak anti pati dengan PT GJT. "Kemarin kan yang dituntut tidak ada debu batu bara. Bukan persoalan GJT-nya," ujarnya.

Kapolres kembali menawarkan untuk diberikan waktu kepada GJT agar menghilangkan debu tersebut. "Coba kita beri waktu. Agar mereka memperbaiki sistemnya agar tidak ada debu yang ke pemukiman," ungkapnya.

Usulan Kapolres langsung ditolak warga. Warga tetap meminta GJT relokasi. "Ini sudah harga mati," teriak warga. (rof/han)

(sb/rof/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia