Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Sibuk Bantuin Orang, Kerjaan Sendiri Keteteran, Keluarga pun Wassalam

07 Desember 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Karin, 32, tak tahan lagi dengan kelakuan suaminya, Donwori, 33. Punya tanggungan anak istri, namun etos kerjanya disamakan seperti saat bujang. Kerjaan sendiri kelabakan. Tapi sok-sokan bantuin kerjaan teman, berkedok cangkrukan. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya 

"Iyo lek oleh bayaran ngunu ra opo-opo. Iki ogak, blas. Bati mangan angin tok," keluh Karin suatu ketika di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya. Keluhan Karin ini ia tujukan ke Donwori. Yang sudah tidak lagi bisa berpikir jernih. Mungkin karena ia kurang minum.

Kekesalan Karin memang wajar. Bayangkan saja. Namanya hidup, ada saja kebutuhannya. Apalagi kalau sudah berumah tangga. Sayang, kebutuhan Karin lebih sering kelabakannya dari pada terpenuhinya.

Hal ini karena Donwori, sebagai pemenuh kebutuhan tunggal di rumah kurang bertanggung jawab. Pekerjaannya sendiri sebagai pedagang buah ia jalani setengah-setengah. Namun ia rajin membantu teman, menjaga kos-kosan perempuan, ironisnya tanpa bayaran. 

Setiap pukul tujuh malam, Donwori akan bergegas ke kosan perempuan yang hanya berjarak lima menit dari rumah. Di sana, ia sangat sibuk. Mulai dari membantu mbak-mbak rapuh dan lemah mengeluarkan motor, menghalau maling masuk dengan berjaga di depan gerbang, disambi duduk-duduk main catur bareng, ghibah (ya, Donwori adalah tipikal pria lamis yang tak lepas daru rasan-rasan) hingga membukakan pintu gerbang buat mbak-mbak gemes yang pulangnya kemalaman. 

Kesukarelaan Donwori ini tentu membuat Karin kesal. Betapa tidak, kalau diomongi, Donwori selalu berkilah kalau gaulnya sama penjaga kos ini hanya sebagai selingan malam. Gantinya cangkrukan yang lebih berfaedah. Yang tetap tidak bisa dinalar oleh Karin. "Berfaedah jare, faedah opo? Bayaran sing oleh yo kancane. Dek e opo diwenehi ora. Mbuwak waktu iyo," gerutu Karin kesal. 

Masalahnya, kerja suka rela ini juga berpengaruh pada performa Donwori pada pekerjaannya yang sesungguhnya. Karena kerap begadang hingga pagi, jadwal tidurnya berantakan. Pagi-pagi yang harusnya ia manfaatkan untuk segera bergegas kerja, masih ia habiskan untuk berjalan-jalan di alam mimpi. Ia baru bangun mendekati siang. Yah bisa ditebak lah, rezeki kepatok ayam. 

Luar biasanya, pekerjaan sukarela ini sudah Donwori lakukan lebih dari enam bulan. Karin sendiri tak tahu lagi harus membujuk suaminya seperti apa, biar sadar. Melibatkan orang tua pun sudah. Imbasnya Karin yang malah dapat damprat. Pernah juga ia bujuk teman Donwori yang jaga kos-kosan itu. Namun ia hanya dapat kesal karena cuma direspons dengan pringisan. Arek ediaaaan, pikirnya. 

Karena sabar pun ada batasnya, ia putuskan untuk bercerai saja. Makin merana hidupnya nanti kalau harus bersabar dengan pria macam Donwori ini. Makan ati, bikin stres. "Ngomong ae seneng yo, nyawang arek-arek gawe hot pants wira-wiri bendino. Cekne... cek diterusno, enak-enakno. Jajal, ono sing isok nyantol ta suwe-suwe," pungkas Karin merelakan, meski dengan kekesalan yang hakiki. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia