Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Kelabuhi Polisi, Simpan Sabu di Dalam Termometer

06 Desember 2019, 18: 31: 20 WIB | editor : Wijayanto

CERDIK: Tersangka Samsul Arifin dan barang bukti yang diamankan polisi.

CERDIK: Tersangka Samsul Arifin dan barang bukti yang diamankan polisi. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Berbagai trik dilakukan untuk menyimpan sabu-sabu (SS) agar tidak ketahuan polisi. Samsul Arifin, 44, warga Karang Rejo VI, Wonokromo, Surabaya, menyembunyikan sembilan poket sabu di dalam termometer.

Tersangka Samsul biasa menjual sabu pada sopir taksi online dan sopir lin. Polisi menemukan sabu yang dibungkus lagi dengan bungkus permen di rumahnya. Kemudian sabu tersebut disimpan dalam tembok rumah yang sudah dilubangi.

"Kami juga temukan pipet kaca yang disembunyikan dalam power bank,” terang Kanitreskrim Polsek Gayungan Ipda Hedjen Oktianto, Surabaya.

Awalnya, warga sekitar melaporkan bahwa tersangka sering mengedarkan sabu di kawasan Wonokromo. Polisi pun dengan mudah menangkap Samsul di rumahnya. Namun, petugas sulit menemukan barang bukti sabunya.

Nah, setelah dicari ditemukan kotak termometer di dalam lubang dinding kecil. “Setelah dicabut dan dibuka, ternyata ada bungkus permen yang di dalamnya ada sembilan poket sabu,” ujarnya.

Sabu tersebut sengaja ditaruh di dinding rumah bagian luar. Ini dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada para pelanggan setianya. Jika tersangka tidak ada di rumahnya, pelanggannya bisa langsung ambil satu poket sabu dari luar.

Sabu juga sudah dibagi menjadi kemasan pahe dengan harga per poketnya Rp 200 ribu. “Pelanggan bisa langsung mengambilnya, kemudian uang tinggal transfer,” tuturnya.

Saat menggeledah rumah tersangka, ditemukan satu power bank yang mencurigakan. Saat dibongkar, komponen power bank tersebut bukan berisi baterai. Namun, polisi menemukan dua pipet kaca SS bekas pakai.

Pengakuan tersangka, sabu tersebut didapat dari Sahri di wilayah Tambaksari. Ia biasa memesan dua gram sabu dengan harga Rp 2 juta. Namun, tersangka mendapat sabu sebanyak lima gram. Pembayaran sisa tiga gram baru dilakukan saat tersangka kembali memesan sabu.

"Seminggu sekali tersangka dijatah lima gram sabu. Cara pembayaran ini yang membuat tersangka tidak akan bisa lepas dari bisnis sabu,” jelasnya. (gun/rek)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia