Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Raup Laba Rp 5 M, 18 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Spamming

05 Desember 2019, 17: 24: 00 WIB | editor : Wijayanto

AKAL BULUS: Petugas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus penipuan kartu kredit yang diamankan di Mapolda Jatim.

AKAL BULUS: Petugas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus penipuan kartu kredit yang diamankan di Mapolda Jatim. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Penyidik Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim menetapkan 18 orang tersangka kasus spamming dan pembobol kartu kredit. Otaknya adalah Hendra Kurniawan, 24, warga Jalan Balongsari Tama Blok C-1, Tandes, Surabaya.

TIPU-TIPU: Petugas mengamankan beberapa monitor yang dijadikan barang bukti.

TIPU-TIPU: Petugas mengamankan beberapa monitor yang dijadikan barang bukti. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Sedangkan 17 tersangka lain adalah AES, AEB, YM, MTP, DAB, PRS, DZ, CD, AWK, ASP, GPW, HRP, AFM, MAF, HM, DA, MSN, dan DP. Mereka karyawan Hendra yang bertugas sebagai pengawas, tim spammer, tim domain, programer, tim Google Developer dan tim advertising.

Terbongkarnya sindikat pembobol kartu kredit ini setelah polisi mengembangkan kasus penangkapan komplotan penipuan penggelapan dan hacker yang dilakukan warga negara asing (WNA) di Malang belum lama ini.

“Mereka melakukan kegiatan spamming dan developer advertising. Dengan tugas masing-masing, menggunakan kartu kredit orang lain dan transaksi,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan didampingi Direktur Reskrimsus Kombes Pol Gidion Arif Setyawan.

Irjen Luki menambahkan, para korban pembobolan kartu kredit tersebut merupakan warga negara asing seperti negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Para pelaku yang ditangkap rata-rata masih berusia di kisaran 20 tahun. “Mereka lulusan SMK yang memiliki kemampuan bidang IT luar biasa,” imbuhnya.

Kasubdit V Siber AKBP Cecep Susatya mengungkapkan, modus komplotan ini menggunakan akun email dan password orang lain, termasuk menggunakan kartu kredit orang lain. Awalnya yang bekerja mencuri data pribadi orang lain adalah Tim Spamer yang dikelola oleh Bahtiar dan Cakra Dahana. Mereka menyebar link dan membuat domain.

“Modus perekrutan karyawan melalui media sosial. Mereka awalnya dijanjikan kerja cleaning service. Namun, syaratnya pelamar harus bisa komputer,” jelas Cecep.

Dia menerangkan, para karyawan setelah masuk lalu dilatih terkait komputer dan trik melakukan spamming, google.id, dan sebagainya. “Pelaku menggunakan metode spamming untuk menjalankan bisnis developer advertising,” sambungnya.

Setelah mendapatkan data perbankan yang dicuri melalui spamming, pelaku lalu menggunakan data kartu kredit itu untuk mengakses google.com sebelum menjalankan bisnis developer advertising.

Menurut Cecep, awalnya komplotan ini menjalankan praktik pengiklanan produk secara online melalui situs pencarian Google. Mereka sudah bekerja sama dengan perusahaan besar di luar negeri seperti produk ponsel dan kecantikan.

Untuk proses pengiklanan, digerakkan Tim Google Developer dan Tim Advertising. Selanjutnya, syarat memasarkan produk pengguna harus membayar sejumlah dengan pecahan dolar.

“Namun, yang digunakan membayar adalah data kartu kredit yang dari spammer atau yang sudah dibobol,” bebernya. Hendra sebagai otak jaringan ini diketahui sebelumnya pernah bertransaksi kartu kredit dengan komplotan peretas yang ditangkap di Malang.

Sementara itu, Hendra Kurniawan mengaku praktik spamming yang dijalankannya sudah berlangsung satu setengah tahun. “Keuntungan Rp 5 miliar lebih,” kata Hendra saat diinterogasi Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera dan awak media.

Hendra mengaku para karyawannya diberikan gaji Rp 1 juta dan komisi 10 persen jika berhasil membobol kartu kredit. Selain diberikan gaji pokok, para karyawan juga ditampung tinggal di mess yang ada di Jalan Balongsari Tama Blok C-1, Tandes. (rus/rek)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia