Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Terima Dilarang-larang Menikah Lagi

04 Desember 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Tetangga memang suka berkomentar. Biarkan saja, sudah fitrahnya. Mereka terkadang merasa paling paham sesuatu melebihi yang menjalani sendiri. Jangan terlalu dibawa hati kalau omongannya tidak mengenakkan. Macak budek wae lah.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Namun terkadang omongan tetangga ini terlalu nyelekit sampai terngiang-ngiang lama. Ini jugalah yang dirasakan oleh Karin, 44. Ia yang kesal sampai mengumpat ingin melintir mulut tetangganya.

“Kate aku rabi maneh, kate aku nduwe lanangan telu. Opo jareku lah. Kok ngatur-ngatur,” selorohnya kesal saat berada di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.

“Yo kono uripe enak. Bojo sugeh, anak sukses, akeh sing nguwenehi. Mangkane omongane koyok paling bener ae,” imbuhnya lagi makin kesal.

Kekesalan Karin ini bermula ketika seorang tetangga, memplonconya di hadapan ibu-ibu lain saat kumpul bareng. Dalam momen ‘waktu ibu-ibu bergosip sore hari’. Seorang tetangga berbadan bongsor, sebut saja namanya Mira, langsung nyeletuk, “Wes Mbak, pokoke mari ngene ora usah rabi maneh. Golek opo maneh seh,” begitu katanya. Diucapkan lantang-lantang sehingga ibu-ibu yang awalnya ngobrol asyik masing-masing, memusatkan perhatiannya kepada Karin.

Tak puas sekali, si Mira ini sampai tiga kali mengatakan hal yang sama ke Karin. Sudah mirip manggil hantu saja. “Temenan Mbak, ra usah rabi maneh lek jareku,” lanjutnya.

Mendengar omongan itu diulang-ulang, sebenarnya hati Karin terbakar emosi. Namun ia sembunyikan hati yang membara ini dengan senyum setengah tak ikhlas. Dan jawaban sekenanya. Ia kesal luar biasa kala itu, tetangga yang awalnya tak tahu menahu tentang masalah rumah tangganya sekarang, jadi kepo semua.

Setidaknya dua orang mulai kepo tanya-tanya kepadanya setelah itu. “Emang opo’o ojo kawin maneh Mbak,” tanya mereka ke Karin. Membuat ia harus menceritakan kisah hidupnya yang sengaja tak ia ungkap dipetani oleh tetangga.

Sebenarnya tak mengherankan juga kisah cinta Karin jadi perhatian khalayak. Karena hingga kini, ia sudah mencetak rekor bercerai sebanyak dua kali. Dari klaimnya, perceraiannya disebabkan oleh laki-lakinya saja yang kurang ajar. Bukan salahnya. Sepeti yang terakhir ini, suaminya hobi mabuk-mabukan. Juga gak pernah memberi nafkah. Siapa yang tahan. 

Namun menikah lagi atau bukan adalah hak prerogatifnya. Mau nikah lagi sambil salto ya urusannya. Ngapain itu tetangga yang gak ikut ngasih nafkah ngatur-ngatur segala.

“Malah jarene, rasah rabi. Urusono putumu ae. Cur, masio bapake yo minggat, putuku sik nduwe mboke, sik sanggup ngopeni, lapo atek aku repot-repot dikongkon ngurusi,” lanjut Karin tambah emosyen.

Karin menambahkan, nantinya, kalau ketemu lagi pria yang mau dengan dia, ia juga akan menikah lagi. Toh usianya belum tua sekali. Toh dia masih ayu. Asalkan ada laki-laki yang mau nanggung hidup dan ekonominya, ia mau saja. Ya ada benarnya juga Bu Karin itu. Hidup memang terlalu berat untuk dijalani seorang diri. Serius! (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia