Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya
Ibu Pasien Penderita Hydrocephalus

Dina Terharu Dapat Tawaran Rusun, Ingin Fokus Rawat Bayinya

03 Desember 2019, 16: 31: 14 WIB | editor : Wijayanto

SAYANG ANAK: Dina Oktavia menggendong anaknya yang menderita hidrocephalus.

SAYANG ANAK: Dina Oktavia menggendong anaknya yang menderita hidrocephalus. (ISMAUL CHOIRIYAH/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Dina Oktavia, 21, ibu muda yang ditinggal pergi suaminya gara-gara melahirkan anak yang menderita hidrocephalus kini menjumpai titik terang. Kemarin (2/12), ia mendapat tawaran untuk tinggal di rumah susun dari Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim. Selama ini Dina tinggal di rumah seluas 2 x 6 meter bersama ibu dan anaknya.

Dina mengaku bersedia tinggal di mana pun. Namun, jika harus memilih, Dina ingin tinggal di rusun yang dekat dengan RSUD dr Soetomo. Agar lebih dekat dengan tempat anaknya kontrol dan berobat. "Sebenarnya jarak bukan masalah. Selama ini saya juga diantarkan dengan ambulans milik Puskesmas Mojo." katanya.

Dina mengaku sejak kecil tinggal di rumah sepetak itu. Rumah itu pun berstatus sewa. Dulunya, ia boleh menyewa tahunan. Namun beberapa bulan terakhir, ia harus membayarkan dalam bentuk sewa bulanan. Saat hujan, rumahnya selalu kena banjir.

Di bagian belakang rumah, ada sarang tikus yang bolak-balik berseliweran di rumahnya. Dina meyakini penyebab anaknya menderita hidrocephalus karena kakinya sempat dua kali digigit oleh tikus saat hamil. "Ibu saya juga sering digigit tikus," katanya.

Ia bersyukur pemerintah peduli dengan keluarganya. Dina berharap di rumah baru nantinya, kondisi anaknya semakin sehat. Dan tidak rewel karena kepanasan seperti sebelumnya. Ia juga akan terus berwirausaha secara online. "Saya mau fokus ke anak. Jadi, mau kerja dari rumah saja," ujarnya.

Selama ini, Dina dan keluarga kecilnya masih bergantung pada pemberian sang kakak. Sementara suaminya sudah beberapa bulan kabur karena malu dengan kondisi anaknya yang cacat. Ia juga mendesak Dina agar segera mengurus surat perceraian.

"Mamanya juga begitu. Sejak menikah sampai anak saya seperti ini juga tidak mau menengok. Tidak mau mengakui saya sebagai  mantu karena dianggap tidak setara ekonominya," ujarnya.
(ism/rek)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia